Kamis, 20 Juni 2013

2020 : Turki, we will be there :)

ini adalah mengenai salah satu target yang sangat saya ingini mewujud nyata.
tentang rencana sebuah perjalanan yang akan saya susun dengan seksama, mulai dari detik ini juga.

langkah pertama adalah niat. langkah kedua adalah bertindak dengan cara menabung dan mencari info. dan berharap langkah ketiga nanti adalah melaksanakannya.

ya, saya akan sedikit sharing mengenai sebuah target perjalanan yang sangat saya idam-idamkan sejak lama, ya sudah 2 tahunan ini barangkali. terpikir secara random, saya namai ini dengan nama target: Suhadi and His Wife Go to Turki. hahaha kenapa juga harus pakai "his wife?"

Turki adalah salah satu negara yang saya merasa bergetar setiap kali mendengarnya. Turki adalah salah satu negara yang saya akan pay attention acapkali ada tayangan atau apapun yang terkait dengannya. mungkin karena saya sempat berbangga hati bahwa kejayaan Islam ketika zaman Turki Utsmani begitu menginspirasi untuk saya, sehingga saya yakin bahwa banyak pelajaran yang bisa saya ambil jika suatu saat berkesempatan menginjakkan kaki di sana :)

saya menargetkan bisa ke Turki di tahun 2020. dan saat itu semoga saya sudah beristri dan akan mengajaknya untuk ke sana menikmati keindahan alamnya, belajar bersama mentafakuri peninggalan bersejarah dari suatu peradaban termulia di muka bumi, yakni peradaban Islam, juga melakukan hal lainnya yang mungkin akan saya cicil itinerary-nya dari sekarang. hahaha.

saya berharap bisa mengunjungi konstantinopel yang bersejarah ditaklukan oleh Sultan Mehmed II (Muhammad Al Fatih) ketika tahun 1453. berharap bisa menyentuhkan kening dalam sujud terindah di Blue Mosque. menyaksikan Hagia Sophia yang begitu legendaris sebagai bangunan termegah saat dulu. dan yang paling saya ingini adalah bisa mencicipi panas dan aroma Cappadocia yang begitu artistik, sambil menaiki balon udara yang romantis. wah, membayangkannya saja saya sudah merasa gembira, terlebih lagi jika semua mewujud menjadi kenyataan. aamiin...

blue mosque

cappadocia
ah entahlah, membayangkan Turki selalu membuat saya cukup bersemangat untuk melakukan perbaikan diri, perbaikan finansial, dan perbaikan lainnya. saya hanya berdo'a semoga paspor saya dan istri kelak akan sempat terisi dengan visa Turki.

ditunggu saja, semoga 2020 semuanya mewujud nyata dan lembaran foto saya dan istri berlatar belakang Turki akan saya share kembali di blog ini. aamiin ya robbal aalamiin :)

Do'a Untuk Bapak di Hari Bersejarah


Senja ini,
Rasanya beberapa benda langit sepakat untuk hadir bersamaan seolah atraksi sirkus yang ingin menghibur.

Jingganya matahari masih terlihat walaupun sudah samar terhalang oleh hitam. Bulan tiga perempat yang mengingatkan aku bahwa sya’ban hampir pada pertengahan, terlihat menawan sedari langit masih biru tadi. Juga selepas aku bersujud dalam 3 rakaat yang syahdu ini, setitik cahaya berpendar dari arah barat. Ilmuwan bilang itu adalah si bintang senja yang cantik. Siapa lagi kalau bukan Venus.

Sungguh beruntung aku mempunyai mata yang masih bisa menyaksikan konspirasi langit senja ini. terlebih lagi, kakiku hari ini seperti sudah sengaja digerakkan oleh ALLAH swt. untuk pulang lebih awal dari biasanya, supaya aku bisa merekamnya dalam neuron-neuron di dalam otakku, juga dalam tulisan ini tentunya.

Menulis di kala senja ini, sungguh berbeda. Selepas ifthar aku segera menyalakan laptop dan memulai merangkai kata-kata indah untuk salah seorang yang istimewa dalam hidupku.

Hari ini, 20 Juni 2013 yang bertepatan dengan hari kamis 11 Sya’ban 1434 H adalah hari bersejarah untuknya. 63 tahun sudah ia menatap langit ini, dan beruntung langit senja ini seolah seperti sebuah bingkisan indah untuknya.

Aku pikir hari ini di rumah sana pasti terhidang singkong goreng kesukaanmu. Aku tahu persis itu! Karena makanan favoritmu hanya diminta dibuatkan ketika engkau menggenapkan kenaikan usiamu. Sungguh sebuah hadiah sederhana yang biasa Ummi hadiahkan untuk suami kesayangannya.

Bapak, mohon maaf jika secara fisik, aku tak bisa berada di sampingmu saat ini. tapi rasanya engkau tahu bahwa jiwa melankolisku saat ini berresonanasi menujumu.

Bapak, di usiamu yang sama dengan Rasulullah saw. wafat ini hanya sebuah do’a tulus untukmu…
Semoga engkau senantiasa berada dalam kebarokahan ALLAH. Diampuni segala kesalahan-kesalahannya. Semoga engkau digolongkan pada orang-orang yang mendapatkan curahan kasih dan sayang-Nya. Yang ditinggikan derajat dan kehormatannya, serta dimudahkan segala urusannya. Sehat selalu untukmu, Bapak… Aamiin.

Sebuah do’a yang tidak berlebihan, tapi rasanya itu adalah do’a tertulus yang aku panjatkan di hari ini untuk orang spesial yang telah membesarkanku hingga seperti sekarang ini.

Engkau pasti tahu bahwa sesama lelaki, ada gengsi yang besar di antara kita. Tembok penghalang kita terlalu tebal sehingga kita sangat jarang berbicara dengan emosional penuh hati dan perasaan. Hanya 1 kali dalam 1 tahun kita bisa begitu rekat sampai air mata berderai, yaitu ketika moment 1 Syawal tiba. Hehehe, tak mengapa memang begitulah kita.

Namun, di balik rasa gengsi kita, sepertinya hati kita berbicara hal yang sama. Aku bangga dan aduhai sayang padamu, begitupun engkau yang merasa bangga dan sayang tak terperi pada anakmu ini. Betul kan? Ah lagi-lagi mungkin kita sama-sama tidak akan mengucapkannya karena gengsi.

Bapak, mungkin ketika lusa aku pulang, aku akan tunjukkan tulisan ini untukmu. Dan aku tak tahu reaksi apa yang akan timbul nanti. Entah kau akan menangis, entah kau akan innocent seolah tak ada apa-apa atau justru mungkin kau akan tetiba memelukku. Yang pasti apapun itu tak akan pernah mengurangi rasa hormatku padamu. Terlebih di usiamu yang mulai senja.


Barangkali inilah tulisan sederhana yang kupersembahakan untuk lelaki jawara nomor satu di dunia. Sungguh tak bisa terkenang semua segala kebaikan yang pernah kau tunjukkan padaku. Karena terlalu banyak sudah. Satu yang aku pinta setelah ini, mohon tetap do’akan anakmu ini dalam mengejar segala cita-cita ukhrowi dan duniawi yang menjadi targetku.

Dari kota Bogor yang tengah gembira melihat kau gembira di hari ini,
Anakmu,

Suhadi

Note: jika kawan-kawan sedikit memperhatikan tulisan saya dalam blog ini, mungkin akan ada pertanyaan “mengapa yang diceritakan selalu sosok seorang ayah?” Jawabannya sederhana: “karena saya nyaris tidak bisa menceritakan banyak hal tentang Ummi. Ummi-ku terlalu istimewa untuk diceritakan dalam lembaran tulisan ini. Biar namanya tertulis dalam raport amal kebaikan di malaikat Raqib saja, untuk kemudian dilaporkannya kepada ALLAH swt. Aamiin ya Robbana :)

Sabtu, 15 Juni 2013

B.A.T.I.K.

berbicara mengenai batik, rasanya ada sehelai cerita yang ingin saya kisahkan dalam kesempatan kali ini.

masih terekam jelas dalam ingatan, kapan saya mulai mencintai batik. belum lama memang. baru sekitar 4-5 tahun belakangan ini. ketertarikan saya pada batik berawal dari saudara saya yang memberikan beberapa pakaiannya yang sudah tidak digunakannya lagi. sekilas saya langsung tertarik pada 1 buah kemeja lengan panjang berwarna ungu dengan salur putih yang bergerigi. sejenak saya coba regangkan dan tempelkan pada badan saya. "not bad I think". ya, itulah pertama saya menyukai batik, dan walaupun saya orang sunda keturunan jawa juga, justru batik pertama yang memikat hati saya adalah batik banjarmasin.

dalam 2 minggu sekali ada saja giliran saya menggunakan batik tersebut untuk berkuliah. agak aneh memang di tengah kerumunan anak muda yang lebih stylish dengan pakaian kemeja slim fit dan atau baju polo. jikapun ada di antara mereka yang menggunakan batik, ya batik khas jogjakarta dengan nada dan motif yang hampir serupa. warna coklat motif parang atau sejenisnya. tapi saya tetap percaya diri menggunakannya. kesannya paling terang sendiri dan bersinar dengan warna ungu menyala-nyala. hahaha sunlight mama lemon pokoknya, eh shiny like a diamond. hehehe :)

saat saya masuk semester ke-7, saya berkesempatan melakukan kuliah kerja nyata (KKN) di sebuah desa di bilangan Jetis, Bantul, D.I. Yogyakarta. tanpa dinyana, saya bersinggungan dengan pengrajin batik di daerah Kembangsongo. beberapa kali saya melihat para pengrajin tersebut bersungut-sungut membuat mahakarya yang akan mereka jual dengan harga yang tidak kecil. segenap senjata mereka seperti malam, canting, kain mori, dan pewarna seolah ingin bersinergi supaya menjadi sehelai kain indah yang siap terpampang di etalase toko batik ternama di Jogjakarta dan daerah lainnya di Indonesia.

selain melihat para pengrajin tersebut, kami sekelompok anak KKN yang berjumlah 31 orang berinisiatif untuk menyelenggarakan lomba cipta motif batik untuk pemuda-pemudi di daerah tersebut. tujuannya apa? yaitu untuk melestarikan batik itu sendiri, menumbuhkan kecintaan anak muda untuk berbatik, memperkaya desain dan motif batik nusantara, dan nilai-nilai positif lainnya. sungguh seru pengalaman saya dengan batik saat itu. dan itu telah membuat saya lebih apresiasi lagi terhadap batik, terlebih kepada pengrajin dan desainernya yang sangat telaten dalam membuat mahakarya yang memukau tersebut. salut!

antusiasme saya saat itu terhadap batik saya sampaikan pada rekan semasa SMA yang saat itu tengah mengenyam pendidikan di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung. Fajar Ciptandi namanya. dia sangat mencintai bidang tekstil, terutama kain batik yang juga menjadi desainer sekaligus penjual batik dengan brand manikam indonesia dan second line-nya dwaya manikam. saya sampaikan cerita dan pengalaman saya tersebut padanya. darinya saya lebih terbukakan lagi wawasan mengenai batik dan mulai tertarik dengan penuturannya mengenai sisi lain batik, yaitu batik kontemporer.

saya melihat desain-desain yang dibuatnya. terasa sekali mudanya. lebih trendy dan fresh, membuat batik seolah bukanlah sesuatu yang kolot dan kuno. saya menyukai karya-karyanya dan semenjak itulah saya berlangganan batik kepadanya. selain menjual di butik batik, toko batik, dia juga menjualnya dengan konsep batik online. beberapa kali saya memesan batik kepadanya secara customized, karena saya lebih menyukai model yang slim fit dan lebih meremaja. biasanya batik identik dengan sesuatu yang terkesan orang tua banget, nah makanya saya menepis dengan membuatnya yang lebih trendy dan muda. berikut beberapa model batiknya yang sempat saya foto:



 
sejak menggunakan yang pertama, saya tambah suka dengan batik. sejak saat itu berselang setiap 6 bulan saya membelinya lagi yang baru. sampai akhirnya saya mempunyai 3 batik dengan desain kemeja dan motif batik yang dibuatnya dengan indah. batik tersebut tidak khusus saya gunakan untuk ke pernikahan atau undangan lainnya. saya buat sesuatu yang spesial dengan batik tersebut, yaitu saya gunakan untuk bekerja.

mayoritas orang menggunakan batik di hari jum'at. namun, lagi-lagi saya tampil percaya diri berbeda dengan orang lain. saya punya hari khusus menggunakan batik, yaitu setiap kamis. mulanya orang banyak yang bertanya, tetapi lambat laun mereka mulai menyadari dan bahkan sudah bisa menebak bahwa setiap hari kamis saya akan menggunakan batik. jadi trade mark tersendiri. justru aneh manakala mereka menjumpai saya di hari kamis dan tidak berbatik. hehehe.

sebetulnya alasan saya menggunakan batik di hari kamis sungguh sangat sederhana. karena hai jum'at saya terkadang menggunakan baju koko, jadi lebih baik saya geser penggunaan batik di hari kamis. toh tidak ada aturan khusus yang mengharuskan menggunakan batik di hari jum'at kan? yang penting adalah komitmen yang kuat untuk mau mencintai batik dan tidak sungkan untuk menggunakannya dalam acara apapun dan dalam waktu kapanpun. ceileh...

setelah saya mulai merasa jenuh dengan 3 batik saya yang digunakan bergantian setiap minggunya, akhirnya saya memutuskan untuk membeli kembali kain batik di toko batik milik rekanan kawan saya tersebut. kali ini lebih ke arah motif batik Garut dengan pemilihan warna yang cerah dan tidak cenderung cokelat. kainnya pun bukan dari kain mori, tetapi kain katun biasa. saya membeli 2 motif dan segera saya jahit. alhasil, saya memiliki 5 batik sekarang yang bisa saya gunakan dengan lebih leluasa.

setelah itu, saya semakin menyukai batik, saya bahkan sangat percaya diri ketika menggunakan batik tersebut walaupun ketika berpapasan orang akan berujar "pak lurah", "pak RT", dan lain sebagainya. tapi bagi saya itu adalah bentuk perhatian mereka dengan apa yang saya kenakan saat itu, bahkan tak jarang orang menyukai desain dan motif batik yang saya kenakan. #bangga :)

saking cintanya, tak lama saya pun membeli 1 kain batik kembali di sebuah situs batik online. masih motif Garut yang saya pilih, tapi kali ini bertemakan anak-anak, karena saya suka warna hijau dan suka jerapah, tak disangka saya mendapatkannya. walau mungkin bagi sebagian orang terkesan norak, tapi bagi saya ini menarik dan menjadi cerita tersendiri.

kurang lebih seperti itulah cerita saya dengan koleksi batik yang saya punyai saat ini. mereka senantiasa setia menemani saya dalam setiap minggunya, tetapi kali ini saya mengubah jadwal penggunaan batik saya menjadi rabu, karena di hari kamis saya disarankan untuk menggunakan pakaian khusus dari kantor saya bekerja. tapi itu tak masalah, toh tetap saja dalam satu minggunya saya akan menggunakan batik sebagai pakaian bekerja yang nyaman, trendy dan tetap percaya diri.

bangga pakai batik...
senang pakai batik...

bahkan sekarang ketika saya menyelesaikan tulisan ini, saya tengah menggunakan batik :)


Selasa, 11 Juni 2013

Perang Bisul I (1 Sya'ban 1434 H)


tulisan yang saya tulis semalam, tapi saya publish pagi ini karena tidak ada koneksi internet semalam. selamat membaca :)

Assalamu’alaykum wr. wb.
Selamat malam semua,

Akhirnya bertemu lagi setelah blog ini seolah saya nomorsekiankan. Mohon maaf ya… Tiada maksud seperti itu, tapi kondisi yang terkadang membuatku harus memilih. Seperti malam ini, saya memilih menghabiskan waktu malam dengan menghiasimu kembali dengan untaian kalimat yang super. Super jeprut! Hahaha. 

Baiklah, kita mulai saja. Tak usah basa basi lagi. Segera pecahkan bisulnya. Hehehe. Ya seperti judul tulisan saya kali ini, apa sih sebetulnya yang dimaksud dengan Perang Bisul I ini? Dan mengapa pula namanya seperti itu? Cekidot, gan…

Begini, apakah kawan-kawan ada yang pernah mengalami bisulan? Jika pernah, apa yang dirasa? Panas dingin? Merinding disko? Ga enak makan dan tak enak tidur juga tidak enak duduk? Eits, lebay banget. tergantung kali! Kalau bisulnya di muka, plus tambahan ga enak ketemu cemceman juga kali ya?! #eh.

Nah seperti bisulan dalam arti yang sebenarnya itu, beberapa bulan terakhir ini (tepatnya 2 bulan 7 hari 5 jam 37 menit dan 8 detik) saya mengalami hal yang mirip kayak bisulan tersebut. By the way, itu beneran angka seigitu? Hahaha pasti ngasal lah ya… oops, balik ke topik.

Iya, kawan. Sejak enam bulan yang lalu saya mutasi alias pindah pekerjaan ke bidang yang berbeda dengan sebelumnya. Di departemen sebelumnya saya asyik meramu membuat hidangan untuk penduduk Nigeria, Philippine, Kuwait, Arab Saudi dan Thailand dengan jas laboratorium bertuliskan R&D di bagian punggungnya (penting! Hahaha). Namun, pinangan departemen yang sangat hobi sampling-menyampling tak kuasa saya tolak. Akhirnya mulailah saya bergabung dengan komunitas alay yang isinya kebanyakan anak muda yang baru satu dua tiga tahun lulus SMK. 9!L@ 4L@Y b3uUTt d3Gh p0KoKNy@ m3ReKA tTcUHh. Hahaha inilah bukti saya sudah tertular. Tapi to be honest, saya sangat menikmati hari-hari berada di departemen baru ini. Quality Control (QC) namanya. Tampak terdengar gagah bukan? #tsah 

Singkat cerita, 6 bulan saya lewati dengan suka duka. Beradaptasi dengan pekerjaan baru bukan hal yang mudah bagi saya. Ada rasa gembira luar biasa, cemas tak beralasan, fun to the max, sindiran jomblo yang tak berkesudahan, hingga masa-masa melankolis dalam kesendirian pernah saya alami, Semuanya bercampur menjadi satu hingga suatu saat menuju akhir masa 6 bulan saya di QC saya seperti terjangkit sebuah penyakit. Sebuah penyakit yang berasal dari dalam pikiran diri sendiri. Sebuah penyakit yang saya sadari obatnya adalah dengan perlawanan. DILAWAN. TITIK. Penyakit apakah gerangan?

Sepertinya sudah menjadi sebuah pakem perusahaan di tempat saya bekerja, siapapun yang pindah departemen baik mutasi maupun promosi, haruslah melewati tahap yang dinamakan PRESENTASI. Nah, 10 huruf inilah yang didiagnosa menjadi sumber dari penyakit yang saya sebut tadi. Penyakit yang rasanya seperti bisul. Membuat tidak nyaman dan bawaannya ingin segera dipecahkan. Bucat mun ceuk urang sunda mah. Bucat bisul!

Penyakit ini terasa semakin ganas dan menggerogoti pikiran saya di 1 bulan terakhir ini. Pikiran yang digerogoti tersebut acapkali membisikkan mengenai project yang akan dan harus saya presentasikan. Sungguh seperti bisul yang membuat kurang rileks dan seolah membelenggu. Namun, bukan Suhadi jika menyerah di tengah jalan. Ceile lagak gue! Hahaha. Saya tetap bertahan dan semakin mencoba mematangkan konsep. Apa yang terlintas oleh saya akhirnya saya jadikan sebagai project yang bisa saya presentasikan. Dan hari ini, 1 Sya'ban 1434 H (awal dari salah satu bulan yang baik) yang bertepatan dengan tanggal 10 Juni 2013, tibalah masa saya untuk membuat si bisul pecah setelah sebelumnya di-PHP-in bakal pecah di 5 Juni 2013 yang bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (halah, penting banget sampai segitunya. Hehehe). OK, Perang Bisul I pun segera dimulai. Dan inilah kronologis kejadiannya:


“Senin pagi di hari dan tanggal baik ini akan menjadi sejarah yang indah untuk saya”. Itulah yang ada dalam pikiran saya setelah bangun tidur dan sahur tadi pagi. Setelah mandi dan shalat saya lanjutkan membaca literature pendukung. Setelah berkemas dan menyiapkan persenjataan yang ada, tak lama berangkatlah saya ke medan perang.

Di perjalanan dengan menaiki angkot, saya menerima sebuah pesan via WhatsApp dari seseorang yang memberikan semangat kepada saya untuk menaklukan medan perang. Yes, mood booster sekali ini. Hehehe. Di dalam angkot, saya juga mengontak teman kantor saya yang saya percaya, yaitu Ranilia untuk menjadi checker slide saya dalam hal grammar-nya. Maklum si saya ga terlalu lihay berbahasa bule. :p

Waktu masih cukup pagi ketika saya sampai di kantor. Jarum jam membentuk siku di angka 6 dan angka 3. Pagi seperti ini terasa damai sekali. Dibantu oleh Pak Mulyono yang merupakan tim security di shift 1, saya ambil kunci ruangan kerja saya. Entah mengapa saat itu saya merasa mereka begitu dekat. Yes, mood booster kedua hinggap.

Sampai di rungan kerja, saya membuka laptop, perbaiki dan baca bahan pendukung. Tak lama nama NF Ranilia muncul di layar handphone saya. Dia sudah datang dan siap menjalankan tugas mulianya. Hahaha. Akhirnya masalah grammar beres. Terima kasih sangat ya, Ranilia :) cocok jadi guru bahasa inggris ni si gadis pecinta lily dan sangat sayang sama pacaranya ini. peace! Hahaha. Mood booster ketiga disponsori oleh Ranilia.

Tak lama, saya mendapatkan SMS dari manager saya yang bernama Pak Hilman Shadaq. Isinya adalah memberitahukan bahwa “gladi resik” presentasi akan diadakan di pukul 09:00 WIB karena beliau terjebak macet. Ini artinya 1,5 jam sebelum perang dengan misi “pecahkan bisul atau kau semakin terbelenggu” pun dimulai. Dan yang dinanti tiba. Saya sampaikan isi presentasi kepada beliau. Beberapa perbaikan dan kemungkinan pertanyaan yang akan muncul beliau sampaikan dengan baik hingga tepat di pukul 10:30 WIB. Walaupun gladi resik berjalan dengan waktu yang seolah dikejar hantu, tapi saya usahakan tetap rileks. Sesekali saya komat kamit melafalkan do’a kelancaran, kemudahan dan keselamatan untuk menghadapi Perang Bisul I yang sudah dalam hitungan menit lagi ini. Pak Hilman yang mungkin melihat air muka saya yang mulai tegang berujar: “tenang, Di.” Alhamdulillah mood booster dengan energi tinggi ditransfer oleh beliau yang sejak dari awal saya menginjakkan kaki di PT. Nutrifood dan mengenalnya saya sangat terkesan dengan kebaikan dan kebijaksanaannya. Syukron katsir ya, Pak Bos :)

Dan ketika saya betul-betul memasuki arena perang, seorang perempuan bahkan sudah siap di medan yang akan saya taklukan itu. Beliau adalah Ibu Irene Triyanti, seorang manager R&D yang saat tadi mengenakan baju orange yang indah. Sambil menyiapkan arena laga yang dibantu oleh tim IT, saya siapkan file tersebut dan standby di slide pertama berjudul “presentasi QC” yang di baris bawahnya tertulis nama saya sebagai penyajinya.

Tak disangka di saat masih menunggu kehadiran audience yang lain, sebuah SMS masuk kembali ke handphone saya. Ada 2 pesan yang masuk agak bersamaan. 1 dari teman kantor saya yang rencananya akan saya ajak untuk lari (lari dari kenyataan) setelah Perang Bisul I ini berakhir. Hahaha galau amat. Sedangkan 1 SMS lagi datang dari adik saya bernama Ridwan Taufik. Sebuah pesan yang membuat saya seolah diberikan energi maha dahsyat untuk semakin konfiden menaklukan perang ini. Dari SMS-nya saya simpulkan bahwa semenjak awal try out di Nurul Fikri Bandung sebagai persiapan mengikuti SBMPTN, baru kali ini ia lolos untuk ketiga pilihan yang dipilihnya. Alhamdulillah. Bangga! Semoga menjadi pertanda baik untuk bisa menaklukan perang SBMPTN juga untuknya. Aamiin. Alhamdulillah mood booster yang kelima dipersembahkan oleh adik kesayangan saya.

Setelah semua audience hadir, akhirnya perang saya mulai dengan pembukaan. Project pertama saya sampaikan dengan semangat. Saya mendengar kalimat demi kalimat keluar dengan tempo cukup cepat dari mulut saya. Ok, rem sedikit. Audience mulai menunjukkan gairahnya walaupun masih di slide-slide awal. Beberapa pertanyaan disampaikan kepada saya secara intensif dari hampir semua audience yang hadir. Slide demi slide terus dibanjiri pertanyaan dan juga masukan. Panas! Greng! Saya mulai terbawa suasana dan sangat menikmati presentasi ini. Yes, panggung ini milik saya! Penyampaian saya dalam perang tersebut masih terus ditata dengan baik walaupun beberapa ada yang diterima dengan kurang baik. Pertanyaan saya jawab dengan sepengetahuan yang saya miliki, sedangkan masukan saya simpan dan ucapkan terima kasih. Ayo terus, terus dan terus.

Ketika hampir di slide-slide akhir, saya seperti seolah ingin tumbang kehabisan senjata di Perang Bisul I ini. Saya ingin waktu berjalan lebih cepat lagi karena saya rasa sang bisul sudah hampir di ujung tanduk. Bisul yang mau pecah ini rasanya seperti panas dingin. Ingin segera diselesaikan dan pecah. Ayolah sedikit lagi, terus, dan akhirnya waktu jualah yang membuat bisul ini benar-benar pecah. Plong!!! Rasanya saya telah memenangkan perang dan musuh terangkat sudah ditandu menuju pemakaman. Alhamdulillah.

Jadwal presentasi yang diplotkan selama 1 jam saja akhirnya terpaksa harus selesai dengan waktu 2,5 jam. Rekor saya presentasi selama itu. Coba kalo saya jadi seoarang trainer motivasi, entah sudah dibayar berapa. Hahaha…

Dan berakhirlah Perang Bisul I yang akhirnya saya menangkan. Saya telah berhasil menumbangkan penyakit beban dan pikiran kurang sehat yang selama ini seolah menjajah saya. Rasanya memenangkan pertempuran itu memang dahsyat. Saya terbayang bagaimana Rasulullah saw. dan para sahabat ketika menang dalan aneka perang yang pernah dilaluinya. Alhamdulillah. Sebuah sujud syukur akhirnya saya tundukkan setelah saya menunaikan sholat dzuhur yang terpaksa telat karena perang. Hehehe.

Alhamdulillah, saya telah melewatinya. Ikhtiar telah saya optimalkan, sekarang saya tinggal menunggu kabar baik selanjutnya yang sudah disiapkan oleh ALLAH untuk kehidupan saya. Apapun hasilnya saya akan terima dengan ikhlas. Setidaknya satu prestasi telah saya torehkan di 1 Sya’ban 1434 H ini, perang melawan kekhawatiran sendiri. Perang melawan beban pikiran yang sebetulnya sudah selama hampir 2 bulan bercokol laiknya penjajah. Perang melawan penjajah yang telah membuat saya merasa kurang nyaman untuk leluasa melakukan banyak hal. Dan saya namai ini sebagai Perang Bisul I. Lantas, berarti akan ada Perang Bisul II kalau begitu? Saya jawab, ya karena Perang Bisul II sudah akan menanti yang diprediksi akan terjadi di akhir Juni 2013 ini. Semangat, Suhadi. Siapkan mental dan senjata untuk menaklukan Perang Bisul II, dan tentunya selalu sertakan ALLAH sebagai penolong abadi :)

Begitulah, kawan sekilas mengenai detik-detik berjalannya Perang Bisul I yang berakhir di 1 Sya’ban 1434 H pukul 13:10 WIB. Apa hikmah yang bisa diambil dari sejarah ini?

Saya percaya setiap orang memiliki kekhawatiran tersendiri dalam dirinya. Bagi seorang pelajar, kekhawatiran itu mungkin berbentuk kecemasan tidak lulus UAN. Untuk seorang mahasiswa, kekhawatirannya mungkin ketika menjalankan sidang skripsi dan khawatir tidak perform dengan baik. Dan segala bentuk kekhawatiran lainnya yang seolah dimunculkan oleh diri sendiri sebelum kejadian yang sebenarnya terjadi.

Inilah yang disebut dengan unreasonable fear yang kata Felix Siauw dalam bukunya “How To Master Your Habits” dijelaskan bahwa itu adalah semacam penyakit berupa ketakutan yang hanya ada di dalam bayangan kita saja, dan tak mewujud dalam kenyataan. Semoga, setiap diri bisa melawan rasa ketakutan-ketakutan yang dimunculkan oleh dirinya sendiri. Untuk kemudian bebas melangkah menjadi pemenang, tanpa beban kekhawatiran yang tertumpu di pundak. Lawan dan menangkanlah dirimu, karena nikmat kemenangan akan terasa sesudah letih berjuang.

Terima kasih saya ucapkan kepada ALLAH swt. atas pertolongannya, juga kepada orang-orang yang telah berjasa bagi saya dalam memenangkan Perang Bisul I ini: kedua orang tua, kakak dan adik, perempuanku kelak, rekan sejawat (Pak Hilman, Mujiono, Hesti, Rhea, Mas Yoeska, all QC crew yang alay, Mbak Titin, Fahmi, Venessa, Laila, Mbak Wiwin, dan semuanya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu). Terima kasih banyak semua :)

Wassalamu’alaykum wr. wb…