Jumat, 09 Agustus 2013

makna keluarga di moment 1 Syawal


اللهُ اكبَرُ- اللهُ اَكْبَرُ- اللهُ اكبَرُ لااِلهَ الااللهُ وَاللهُ اكبَرُاَللهُ اكبَرُ وَللهِ الحَمْد

gema takbir begitu megah terdengar bersahut-sahutan. hampir selama 12 jam nonstop. anak-anak kecil begitu bersemangat menahan rasa kantuk demi ritual takbiran yang mungkin mereka pikir hanya setahun sekali (atau dua kali jika mereka sama excited-nya ketika takbiran iedul adha. hehehe).

semalam saya mendengarkan takbir dari masjid dekat rumah sambil menulis tulisan saya sebelumnya tentang surat perpisahan ramadhan 1434 H. setelah itu, saya masih memaksakan terjaga dengan menyaksikan pertandingan badminton BWF. tunggal putra Korea Selatan vs China yang saya saksikan semalam. pemain asal negeri tirai bambu keluar sebagai juara dan berhak melaju ke babak selanjutnya. congratulation! (sekilas info ini mah sebetulnya).

akhirnya saya tertidur jam 2 pagi, dan terbangun 30 menit setelah kumandang adzan subuh. aaaarrrggghhhhh, sangat disayangkan saya telat menunaikan shalat subuh. astaghfirullahal'adzim. maafkan hamba yaa ALLAH.

dan sekitar jam 6 lebih 15 menit, saya sudah bersiap untuk berangkat sholat ied di lapangan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Bandung yang jaraknya tidak jauh dari rumah. sekitar 250 meter-an. selesai shalat, seperti biasa waktunya saya bermaafan dan bermelankolis dengan orang tua, kakak dan adik.

jika biasanya saya menangis dan terharu dengan proses rangkulan atau pelukan dengan mereka semua. kali ini tidak. saya usahakan tidak ada air mata yang jatuh. bukan karena memaksakan terlihat tegar, tapi saya ingin berusaha fokus menangkap isi do'a dan pesan yang ingin disampaikan oleh masing-masing. kalau sambil menangis, kadang sayanya suka nggak fokus. hahaha.

well, akhirnya rangkulan pertama saya pada bapak disambut hangat dengan berbaris do'a yang diucapkannya untuk saya. untuk anak bujangnya ini. beliau mendo'akan dengan tulus supaya saya dimudahkan dalam segala urusan. kalimat demi kalimatnya terdengar hangat di telinga seolah saya tengah dicekokin oleh enzim perhatianase. hahaha. setelah itu, gantian saya merangkul ummi. dengan sembari senggukan, ummi melantunkan do'a tulusnya pada saya. beliau juga berpesan supaya saya tetap mengedepankan iman dan islam dalam segala hal. wah, ummi memang wanita solehah :)

ada yang lucu pada do'a 1 Syawal tadi. tak disangka ada satu irisan dari do'a bapak dan ummi kali ini. mereka mendo'akan hal yang sama, seolah sudah janjian sebelumnya, yaitu do'a kemudahan dalam upaya munakahat yang akan saya jelang. saya hanya bisa mengaamiini sambil sekilas membayangkan wajah seorang wanita yang hadir saat itu. saya membiarkan perasaan senang itu beberapa saat. hahaha dasar nakal :)

setelah itu, saya berpelukan dengan kakak saya yang kedua. do'a dan pesannya sungguh bijak dan menggetarkan hati. memberikan energi yang menyulut bagai petasan yang meledak-ledak. hehehe le to the bay. lebay. begitupun dengan kakak saya yang ketiga, dia pun mendo'akan kelancaran akan apa yang saya cita-citakan, juga menasihati untuk tetap mengupayakan apa yang ingin saya kejar. sebaliknya, saya mendo'akan pula kelancaran persiapan pernikahannya yang rencana digelar tak lama lagi. sing lancar nya, leh (nama kakak saya adalah mochamad soleh).

lain halnya dengan si bungsu. saya memeluk adik saya dengan hangat dan memberikan banyak masukan dan motivasi untuknya. rasa sayang yang begitu besar saya transfer pada dirinya seraya memberikan do'a kelancaran akan rencana studinya kelak di universitas pasundan dengan jurusan yang dipilihnya. tetap semangat ya, ridwan :)

menjelang malam pukul 8, saya mendapatkan panggilan via telepon dari kakak pertama saya. saya diminta untuk datang ke kediamannya untuk mangantarkan suatu barang yang akan digunakan untuk persiapan mudiknya besok ke Brebes (kampung halaman istrinya). ketika bertemu saya langsung merangkulnya dan memohon maaf atas kenakalan saya. ia begitu meneduhkan dan memberikan semangat belajar pada saya untuk terus berani mencapai cita-cita.

akhirnya lengkaplah sudah prosesi rangkulan berisi penuh do'a dan pesan dari orang-orang yang telah menjadi sumber energi saya dalam mengisi kehidupan ini. mereka adalah harta yang tak ternilai harganya. walau kesederhanaan yang membalut kehidupan kami, tapi saya selalu merasa bahwa keunikan keluarga saya menjadi energi tersendiri untuk saya bisa tersenyum, merenung, menangis haru, atau bahkan tertawa ngakak sekalipun.

saya jadi ingat dengan twit yang pernah saya posting tentang keluarga. berikut:



itulah makna keluarga bagi saya. terlebih ketika moment 1 Syawal seperti ini, mereka laksana orang-orang yang mampu menyulap saya menjadi orang paling melankolis sedunia.

ya, keluarga. sebuah miniatur pemerintahan/negara dimana semua aspek ada di dalamnya, mulai dari kepemimpinan (kepala keluarga dan anggota keluarga yang diakui melalui kartu keluarga), adanya peraturan yang ditaati, dan juga tempat untuk bermukim. begitupun sebuah negara diakui jika berdaulat, ada peraturan yang ditaati, dan juga menduduki suatu lingkup kawasan.

terakhir, semoga keluarga saya tergolong pada keluarga yang senantiasa mendapatkan redho dan berkah dari ALLAH Swt. aamiin. begitu dulu ya dari saya... ini cerita saya, mana cerita kawan-kawan?


Kamis, 08 Agustus 2013

waktu [titik-titik] sebelum [titik-titik]

saat hari kemenangan ini, saya teringat akan kesempatan-kesempatan yang masih diberikan kepada saya. ALLAH begitu baik masih memberikan saya kesempatan merayakan iedul fitri 1434 H di tengah keluarga yang masih lengkap dan semuanya dalam keadaan sehat. tak dipungkiri lagi bahwa banyak orang di luar sana yang tahun ini merayakan iedul fitri tanpa orang terkasih di sampingnya. mereka sudah lebih dahulu dipanggil oleh ALLAH sebagai sang pemilik ruh. sejenak, saya membayangkan gurat kesedihan tentu tergambar dari rekan atau bahkan saudara saya yang merayakan iedul fitri kali ini tanpa didampingi oleh orang terdekatnya.

saya sadar, tak ada jaminan bahwa saya pun masih bisa menjumpai ramadhan dan iedul fitri tahun depan. tersebab itu, hanya upaya perbaikan yang senantiasa harus disiapkan supaya merasa siap jika suatu saat berada pada kondisi-kondisi yang tak menyenangkan. harus berdamai dan bermain cekatan dengan waktu. mematangkan kualitas diri supaya tidak tergerus waktu. izinkan saya mengetik 5 pesan yang seringkali didengar terkait dengan optimalisasi waktu. saya hanya mengingatkan kembali, khawatir kawan-kawan lupa, terlupakan, atau bahkan menyengajakan lupa. astaghfirullahal'adzim.

kawan-kawan semua, manfaatkanlah waktu ... sebelum ...

waktu sihat sebelum sakit
waktu muda sebelum tua
waktu kaya sebelum miskin
waktu lapang sebelum sempit
waktu hidup sebelum mati 



demikian, semoga menjadi pengingat.
karena waktu seolah semakin cepat bergerak, meninggalkan kesempatan yang dipunyai hingga akhirnya hanya sesal yang didapat. jangan sampai! saya bantu ingatkan kembali ya bahwa tahun 2013 sudah akan berakhir dalam bilangan 5 bulan ke depan. semangat!!! :)

salam,
suhadi


suhadi, jarafa, dan leo mengucapkan...



Rabu, 07 Agustus 2013

surat perpisahan ramadhan 1434 H


Alhamdulillahirobbil’alamiin…
Satu kata yang benar-benar saya panjatkan di malam ini.
Syukur tersampaikan atas waktu yang masih diberikan oleh ALLAH sehingga saya masih bisa mencecap malam 1 Syawal tahun ini. Sebuah malam yang begitu megah dengan segala pernak-pernik yang ada di tengah masyarakat Indonesia seperti letupan kembang api, mudik, belanja, dan membuat ketupat serta kue kering.

Di balik rasa syukur tersebut, terselip sebuah salam perpisahan yang sendu. Sebuah perpisahan yang seringkali saya tangisi. Sebuah perpisahan yang mana derai air mata tertumpah dan ucapan takbir terucap di bibir dan hati. Ya, Ramadhan telah melangkah pasti ke gerbang penutupan. Memberikan tongkat estafetnya pada Syawal untuk membuka lembaran baru yang siap untuk ditulisi dengan aneka rupa amalan, sikap dan tindakan.


Entah mengapa Ramadhan kali ini terasa begitu cepat berlalu. Seperti lintasan kilat yang hanya mampir seketika. Apakah ini salah satu tanda bahwa saya telah mengisi Ramadhan dengan kegiatan yang super positif sehingga menjadi tak berasa? Sebentar, saya evaluasi dahulu. Rasa-rasanya tidak mutlak demikian. Saya berkaca diri dan menemukan kesimpulan bahwa Ramadhan terasa begitu cepat karena saya tersibukkan dengan kegiatan yang padat, tapi lebih ke arah pekerjaan rutin saya sebagai karyawan dan bukan sebagai hamba ALLAH yang seharusnya memanfaatkan Ramadhan sebagai arena untuk meng-upgrade diri dalam kehidupan spiritual dan emosional. "Hhmmm, celaka!" pikir saya.

Kemudian saya memberikan aneka alasan pembenaran bahwa pekerjaan yang saya geluti juga diniatkan untuk ibadah kok. Jadi harusnya tetap bernilai di mata ALLAH. Benar demikian? Saya berharap sekali begitu adanya. Namun, urusan pahala sepenuhnya ALLAH yang menentukan. Saya hanya khawatir saja bilamana segala aktivitas saya di Ramadhan kemarin tidak membekas pahala yang melimpah. Rugi yang didapat. Na’udzubillah…

Namun, saya tak mau menghiraukan hal itu, karena sudah terjadi. Zona saya untuk berikhtiar mencari ladang pahala selama Ramadhan telah saya tunaikan semampu saya. Sepengetahuan yang saya tahu dan yang saya bisa. Sekarang, hanya sebuah do’a pengaharapan dalam penerimaan amal ibadah saya yang melayang ke langit. Berharap do’a saya mendapat prioritas dari ALLAH sebagai do'a yang layak didengar dan diijabah serta turut di-aamiin-kan oleh para malaikat. Aamiin.

Kini, Ramadhan nyata lenyap tahun ini. apa yang didapat dari perjalanan 1 bulan kemarin? Perubahan apa yang jelas dirasakan dalam qalbu? Jika jawabannya biasa-biasa saja, maka sebuah ungkapan yang tepat adalah: “hello, kemana saja kemarin? “ Ah, terasa tertampar. Saya belum memberikan yang terbaik yang saya punya. Janji saya untuk memberikan total berupa tenaga, waktu, harta dan jiwa tak terbukti. Saya malah hanya memberikan sisa waktu dengan KW tujuh mungkin. Yaa ALLAH, mohon ampunan atas keteledoran saya ini. Saya malah lebih sibuk mengurusi pekerjaan saya. Saya malah memberikan energi lebih untuk pertemuan dengan rekan-rekan dengan label ifthar jama'i. Saya malah terlalu malas dan membiarkan mata banyak terpejam. Sungguh yaa ALLAH, malu rasanya saya dengan semua ini.

Predikat taqwa yang Engkau janjikan sepertinya belum berhak saya terima. Saya tak mau congkak bahwa saya berhak menerimanya. Bahkan ketika 1 Syawal sebagai hari kemenangan ini dirayakan, saya pun bertanya-tanya apakah saya tergolong pada orang yang berhak mendapatkan kemenangan tersebut? Jika ya, apa buktinya? Dan lagi-lagi saya tak sampai hati menunjukkan kinerja pada-Mu yaa ALLAH. Saya tak punya cukup hasil untuk kemudian saya tukarkan dengan tiket kemenangan yang Engkau miliki.

Kini, saya berharap bahwa sedikit amal yang pernah saya lakukan selama Ramadhan kemarin akan diganjar sesuai. Saya tak akan protes jika hasilnya tidak memuaskan. Hanya saja saya bermohon untuk diberikan cukup umur untuk bisa bertemu kembali di Ramadhan tahun depan. Saya masih miliki niat besar untuk terus memperbaiki segala kekurangan saya. Tentunya, perbaikan yang dilakukan bukan harus menunggu Ramadhan tahun depan, tapi mulai dari sekarang juga. Biarkan Ramadhan kemarin menjadi sebuah bulan pembinaan yang membuat saya siap untuk menghadapai 11 bulan ke depan. Untuk bisa lebih bijak dan bersahaja dalam berniat, berucap dan bertindak. Untuk bisa memberikan kinerja yang lebih matang dan terencana demi hari kemenangan. Aamiin yaa robbal ‘alamiin.

Sekarang, Syawal sudah di depan mata. Siap diisi dengan amalan yang lebih super. Semoga dampak Ramadhan kemarin akan terimplementasikan di 11 bulan ke depan. Dan semoga kelak akan menjadi salah satu cara saya untuk mendapatkan kemenangan yang dijanjikan ALLAH. Sebuah kemenangan yang hakiki, yaitu perwujudan ke-Maha Besar-an ALLAH seperti yang terkumandang dalam lafadz takbir yang bergema malam ini di seantero masjid di seluruh penjuru dunia. ALLAHU AKBAR!!! ALLAH Maha Besar yang terbukti dengan terwujudnya ISLAM sebagai jalan yang diredhoi-Nya untuk digunakan sebagai jalan hidup seluruh umat manusia. Aamiin.

Sebagai penutup, di penghujung Ramadhan saya selalu teringat dengan lagu dari Bimbo berjudul "Setelah Habis Ramadhan" berikut:

Setiap habis Ramadhan
Hamba rindu lagi Ramadhan
Saat - saat padat beribadah
Tak terhingga nilai mahalnya

Setiap habis Ramadhan
Hamba cemas kalau tak sampai
Umur hamba di tahun depan
Berilah hamba kesempatan

Setiap habis Ramadhan
Rindu hamba tak pernah menghilang
Mohon tambah umur setahun lagi
Berilah hamba kesempatan

Reff:
Alangkah nikmat ibadah bulan Ramadhan
Sekeluarga, sekampung, senegara
Kaum muslimin dan muslimat se dunia
Seluruhnya kumpul di persatukan
Dalam memohon ridho-Nya

surat perpisahan ramadhan 1434 H,
penghujung 7 agustus 2013 sekaligus penghujung Ramadhan 1434 H