Senin, 04 Maret 2013

suka jadul bukan berarti kuper

maret?
ya maret. ini sudah bulan ke-3 di sistem penanggalam masehi.
tak terasa. sudah maret saja, sementara diri masih belum terupgrade dengan lebih gagah.
tak mengapa, itu sebuah proses yang terus berkelanjutan asalkan selalu ingat dan mau untuk mengupgrade diri. dengan apa? banyak hal tentunya. :)

oke, teman... artikel pertama saya di bulan maret ini akan membahas mengenai oldies alias "jadul" alias jaman dulu. seberapa menariknya? saya sendiri pun tidak tahu, tetapi mari kita coba untuk diskusi bersama. barangkali ada beberapa hal yang menarik di balik hal tersebut.


saya adalah seorang anak yang lahir dari sebuah keluarga zaman 80-an. sebuah zaman yang saya yakini saat itu masih cukup damai, tidak tergerus oleh pongah pembangunan. pohon masih sangat rindang dan tentunya gaya hidup yang masih sedikit terbelakang. televisi masih menjadi barang langka. mobil baru nongol beberapa saja, dan tentunya peterpan, ungu, ello, andien, semuanya belum terlahir. yang ada saat itu adalah broeri marantika, koes plus, erni djohan, grace simon, tetty kadi, lilis suryani, titik puspa, titik sandhora, dan kawan karibnya yang lain.

saya tahu nama-nama artis tersebut dari bapak saya. ketika saya mulai memahami lagu-lagu, yang saya dengar adalah suara emas dari artis-artis tersebut. hampir setiap hari saya mendengar lagu nostalgia semacam widuri, bunga flamboyan, senja di kaimana, gubahanku, gang kelinci, aku berpisah di st. carolous, dan lain-lain. ajaibnya adalah saya menyukai lagu-lagu tersebut. hingga sekarang bahkan. mungkin itu pulalah sebabnya mengapa saya lebih cenderung menyukai lagu-lagu oldies. bahkan lagu-lagu keroncong semacam sepasang mata bola, bandung selatan di waktu malam, selendang sutera, jembatan merah, bengawan solo, semua saya suka. seperti mendengar sebuah musikalitas berkelas dengan vibrasi yang dahsyat. hehehe.

ada pengalaman menarik yang sering membuat saya berpikir betapa kuper dan jadulnya saya. suatu ketika di kelas 2 SMP, kami sekelas diminta guru kesenian kami untuk menyanyikan lagu bebas di depan kelas. satu per satu anak menyanyikan lagu yang mereka pilih sesuai dengan seleranya masing-masing. sementara anak-anak bernyanyi, sang guru memberikan nilai. saya masih ingat lagu-lagu yang teman-teman saya nyanyikan saat itu: tegar-nya rossa, dan-nya sheila on 7, anugerah terindah yang pernah kumiliki-nya sheila on 7, base jam, dan lain sebagainya. pokoknya lagu-lagu yang sedang hits saat itu yang saya pribadi belum pernah mendengarnya sama sekali. ya sama sekali. betapa kupernya saya bukan?

hingga tiba giliran saya. ketika ditanya mau nyanyi lagu apa? saya jawab dengan nada cukup rendah: "jembatan merah". dengan kadar percaya diri saya yang saat itu masih sangat minim, saya menyanyikan lagu tersebut hingga selesai. dengan suara yang tidak begitu merdu tentunya. ah, saya tidak peduli teman-teman saya akan berkata apa, yang penting saya sudah berhasil melewati ujian nyanyi tersebut. hehehe.

beruntungnya tidak ada komentar aneh dari teman-teman maupun guru saya. namun, yang menarik dari situ adalah saya berpikir bahwa kenapa saya satu-satunya murid dengan umur segitu yang justru menyanyikan lagu lampau dari zaman kapan. hehehe. ya begitulah karena saking terkungkungnya dengan pengetahuan jenis lagu yang saya tahu. hanya sebatas apa yang dimainkan oleh kaset-kaset kesayangan bapak saya. sesederhana itu.

ya, selera musik saya memang berbeda dengan sebagian besar anak muda seumuran saya yang lebih menyukai lagu-lagu pop indonesia, rock, lagu-lagu barat, dan lain-lain. lha saya? keroncong, nostalgia, ebiet. g. ade, dan nasyid. wedeh, jadul pisan yah? hehehe.

tapi tak apa, telisik punya telisik acap kali saya menjumpai rekan-rekan seumuran yang juga memiliki selera musik yang sama. yes, I'am not alone! :) dan beneran deh, senang sekali manakala mengetahui ada orang yang menyukai hal yang sama. saya jadi tidak terlalu merasa aneh. bahkan ketika artikel ini saya tulis, windows media player di laptop saya sedang mendendangkan lagu indah selendang sutra. cakep bener pokoknya :)

sampai sekarang, saya masih setia mendengarkan lagu-lagu oldies tersebut. saya perhatikan lirik-liriknya sederhana tetapi mengena. lagunya mudah dimengerti dan jelas arahannya. namun demikian, bukan berarti saya tidak menyukai lagu-lagu yang up to date lho yah... pada dasarnya saya menyukai lagu yang menurut saya enak didengar, baik itu lagu melow, lagu keras, jazz, keroncong, pop dan lainnya.

saya berpikir bahwa menyukai hal yang jadul bukan berarti kuper alias kurang pergaulan. ini hanyalah masalah selera. buktinya sekarang banyak hal yang mengusung konsep oldies dan banyak diminati, seperti rumah makan, fashion, motor, sepeda, dan lain sebagainya. bahkan mereka-mereka penyuka hal jadul mau dengan rela membentuk komunitas untuk mengukuhkan eksistensinya sebagai penyuka sesuatu yang bersifat oldies. oleh karenanya, suka lagu jadul hanya masalah selera. itu saja.

ya itulah selera musik saya. walau disebut tidak biasa dari kewajaran yang ada, saya tetap akan menyukai lagu-lagu tersebut. seakan mengingatkan saya pada zaman dahulu yang begitu damai. sedamai bandung selatan di waktu malam :)

Jumat, 22 Februari 2013

dari depok untuk kebahagiaan yang hakiki

selamat petang,

2 minggu sudah saya tidak menulis blog.
kali ini saya kembali menggerakkan jari-jemari untuk menekan tuts keypad dari sebuah laptop baru yang merupakan inventaris kantor. alhamdulillah. :)

minggu lalu saya sempat nge-twit mengenai silaturahim saya ke depok menemui kawan lama. di dalam closing twit tersebut yang ber-hashtag  #silaturahimdepok saya berjanji akan menulis cerita lengkapnya di hari kamis, yaitu kemarin. namun, sayang sekali saya harus telat satu hari menuangkannya dalam blog ceritaku_inspirasimu ini. tak apa ya?! yang penting saya tetap menuliskannya.

mari kita mulai saja runutan kisahnya.

berawal dari rasa rindu pada salah satu teman saya ketika KKN 2008 lalu, tak sengaja saya menyapanya via twitter untuk mengunjunginya. saat ini ia tengah menuntuk hak pendidikannya yang lebih tinggi di universitas indonesia, depok. "cukup dekat", pikir saya. masak sih hanya bogor - depok saja tidak bisa. akhirnya saya merencanakan untuk menemuinya di hari kamis, 14 februari 2013 sepulang saya bekerja.

mulanya saya berpikir untuk naik commuter ke stasiun pondok cina sebagai tempat pertemuan awal, tetapi hujan sore itu di bogor membuat saya sedikit malas jika harus berangkat ke stasiun bogor dari kantor saya. huft, dasar manusia dikasih cobaan sedikit sudah langsung down.

ting! tetiba saya punya ide di menit-menit terakhir pulang kantor. saya tekan nomor extension salah satu teman saya yang saya tahu berasal dari depok. bahkan dia setiap hari pulang pergi depok - bogor untuk bekerja. dalam perbincangan via aiphone tersebut, akhirnya saya putuskan untuk ikut dengannya.

singkat cerita akhirnya saya naik angkot ke arah ciawi untuk naik bis dari perempatan ciawi ke arah depok. cukup lama menunggu, tapi akhirnya kami dapati juga bis yang dinanti-nanti. sebuah bis yang sudah cukup usang dan padat. tak mengapa, yang terpenting saat itu adalah penantian selama setengah jam terbayar dengan kehadiran bis tersebut. alhamdulillah.

cukup menyenangkan kami berdua berbincang-bincang mengenai banyak hal, hingga tak terasa teman saya sudah harus turun duluan di daerah cilodong. baiklah, perjuangan harus saya teruskan sendiri menuju ITC depok tempat saya berjanji dengan teman KKN saya tersebut, Yoga namanya. sedangkan teman kantor saya yang membantu saya mengantar ke depok tersebut adalah Christ. :)

masih ingat. pukul 19:40 saat itu. saya tiba di ITC Depok dan menunggu dijemput oleh Yoga. dan.... alhamdulillah setelah 2 tahun tidak bersua, kami akhirnya bertemu kembali. terakhir bertemu adalah Januari 2011 lalu di atrium senen, Jakarta.

"assalamu'alaykum, akh", sapanya. "wa'alaykumussalam", saya menjawab dan kami kemudian berpelukan a'la aktivis kampus zaman masih muda dulu. (hehehe emangnya sekarang sudah setua apa?).

tidak mau membuang waktu yang begitu sempit. motor yang kami naiki digas dengan kecepatan sedang menuju kampus UI depok. agenda pertama adalah sholat isya di masjid kampus Ukhuwah Islamiyah. di masjid tersebut tak sengaja kami bertemu dengan teman satu organisasinya Yoga. kami berbincang-bincang sebentar yang kemudian dilanjut dengan mengambil air wudhu.

satu yang saya cukup iri saat itu adalah, masih ada beberapa kumpulan mahasiswa yang sedang mengaji bersama berkumpul sambil berdiskusi. kurang lebih tak berbeda jauh dengan perkumpulan pengajian yang pernah saya alami zaman kuliah dulu. jujur, sangat ingin bernostalgia dengan ikatan persahabatan macam itu, karena di dunia kerja saya sekarang, cukup sulit menemukan itu. atau mungkin sayanya yang memang tidak berusaha mencari peluang? (ini perlu saya telusur dan cari tahu lebih lanjut).

setelah menunaikan sholat, kami kemudian memutuskan agenda berikutnya yaitu makan malam. niatnya saat itu, Yoga hendak mengajak saya makan di rumah makan "spesial sambal" supaya terasa nostalgia masa kuliah dulu. hehehe, tapi memang belum rejeki, tempat yang dimaksud terlewat dan susah jika harus putar balik. dan,,, "lele lela"-lah yang akhirnya menjadi tempat yang beruntung dikunjungi oleh 2 pemuda yang bersemangat macam kami. hahaha pede. :)

kami memesan makanan berupa 2 porsi lele cabe hijau, 1 porsi tahu,1 porsi tempe dan 3 gelas es teh manis. ya tidak ada yang aneh. kami hanya ber-2 tetapi memesan es teh manis sebanyak 3 gelas. "wah, yoga... ente masih kayak zaman dulu", ujar saya. begitulah Yoga, dia memang sering memesan teh sebanyak 2 gelas dari awal saya berkenalan dengannya ketika KKN 2008 silam.

sambil makan, kami berbicara banyak hal. masih seputaran pembicaraan yang dari zaman KKN dulu, yaitu ma'isyah dan aisyah. maklum di antara teman-teman KKN sub unit Karangsemut, Bantul - Jogjakarta, kami termasuk yang belum menikah. hehehe.

namun, pembicaraan mengenai ini saya rasa tidak perlu dibahas lebih lanjut. kurang inspiratif soalnya. hahaha. kita menuju cerita yang inspiratif saja yah, yaitu ketika dia memulai diskusi bahwa hidup ini rasanya terlalu sederhana jika hanya kuliah, kerja, menikah, dan sukses.

inilah dasar yang akhirnya akan saya bahas dalam blog saya kali ini.
tidakkah teman-teman tertohok dengan pernyataan bahwa hidup ini terlalu sederhana jika hanya untuk kuliah, bekerja, menikah, punya anak, sukses dan akhirnya meninggal?

jika kita renungi lagi lebih dalam, saya rasa kalimat itu benar. apakah mutlak? jawabannya tergantung. pola pikir macam ini mungkin tidak semua orang setuju. ada kelompok yang  lebih adem ayem dengan urusannya sendiri. baginya kesuksesan adalah ketika meraih master, atau bahkan doktor mungkin, memiliki pekerjaan dengan kedudukan yang terpandang, istri yang cantik dan kaya, anak yang pintar, rumah besar dan segala tetek bengek yang intinya semua diukur dengan materi. tapi jangan salah, ada sebagian kelompok yang justru mengukur kesuksesan dirinya dari seberapa bermanfaatnya dia bagi orang lain, bagi kehidupan di dunia ini, dan bagi cita-citanya yang mulia.

apakah salah orang yang mengukur kesuksesan dirinya dengan seberapa banyak kebendaan yang dimilikinya? saya lebih cenderung menilai ya, salah. karena kesuksesan yang hakiki adalah ketika mendapatkan surga sebagai hadiah dari amal baik selama di dunia. bagaimana surga ini bisa diraih? ya tadi, dengan menjadi sebaik-baik insan dengan kebermanfaatan yang tiada habisnya bagi orang lain. semudah itukah? harusnya sih jika balasannya seindah surga, paraktiknya tidak akan semudah yang dikira.

sejatinya, hanya ALLAH sajalah yang berhak memberikan surganya kepada yang berhak. yang bisa dilakukan oleh kita para manusia adalah berlomba-lomba memperebutkan pintu surga dengan amal kebajikan. caranya dengan apa? saya rasa tidak perlu didikte di sini, karena bagi teman-teman yang merasa sudah cukup dewasa bisa dengan mudah menjawabnya. dengan apa? baiklah, jika memaksa saya bantu jawab ya! yaitu dengan mencontoh pribadi Rasulullah saw. dan menjadikan Al Qur'an sebagai pedoman hidupnya.

mencontoh Rasulullah saw. merupakan jalan yang memang diwajibkan karena pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik, yang jika kita ikuti dengan sebaik-baiknya, semoga kita bisa menjadi orang yang beruntung yang akan mendapatkan janji surga-Nya. Mencontoh Rasulullah bukan berarti disempitkan dengan mencontoh amal riyadohnya saja, seperti sholatnya, shaumnya, dan sunnah-sunnah lainnya, tetapi lebih luas dari itu. yang lebih prinsip adalah mencontoh jalan yang ditunjukkan oleh Rasulullah dalam menyeru kepada kalimat Tauhid. melihat dan mencontoh bagaimana beliau yang mulia begitu komitmen memperjuangkan Islam, sungguh itulah yang lebih utama yang perlu diteladani. polanya, caranya, dan sistemnya. semoga kita termasuk ke dalam pribadi yang sudah mencontoh baginda Rasulullah dalam hal yang prinsip tadi. aamiin.

kemudian bagaimana dengan kelompok orang yang menilai kesuksesan dan kebahagiaan dari kadar materi tadi? silakan saja, bila itu memang sudah menjadi pilihannya. toh hidup ini adalah sebuah pilihan. ada kanan ada kiri. surga atau neraka. betul salah. lurus bengkok. syukur kufur. dan lain sebagainya.

namun, seperti yang disampaikan oleh Yoga tadi, rasanya terlalu sederhana dan naif jika hanya berpikir seperti itu, padahal di luar sana banyak umat yang perlu mendapat perhatian. butuh sisi kebermanfaatan kita yang memiliki potensi dan value yang lebih. pertanyaannya, maukah kita berbuat? itu saja. 

saya pribadi, tidak dalam rangka mendikte teman-teman untuk menjadi manusia yang paling banyak manfaatnya, silakan bisa dipikirkan baik-baik dan dipertimbangkan sendiri, karena pilihannya ada di dalam diri sendiri.

bagi yang ingin melejitkan potensi yang dimilikinya supaya bisa lebih terasa kebermanfaatannya bagi orang lain, pilihannya pun banyak, bisa dengan mengikuti komunitas, membuat program pengabdian masyarakat, dan lain sebagainya selama dikerangkai dengan ibadah supaya jerih payahnya tetap bisa bernilai di sisi ALLAH.

jadi, bagiamana? lebih memilih hidup yang sederhana tadi atau yang lebih kompleks dan berdinamika? mangga, pilihan ada pada diri sendiri. :)


ah, akhirnya pertemuan singkat dengan Yoga harus dipisahkan oleh jarum jam yang kian meninggi. saya memutuskan untuk singgah ke rumahnya sebentar dan tak lama diantar ke stasiun depok. bersyukur masih ada commuter pukul 22:45 dari stasiun tersebut dan akhirnya pukul 23:30 saya tumbang di kamar kost saya dengan lelap sambil tersenyum penuh kebahagiaan. kebahagiaan yang semoga nyata, bukan semu dan bukan bahagia akan materi, tetapi karena ingin bermanfaat bagi banyak orang. aamiin ya robbana.

syukron ya, Yoga. semoga diskusi dan pertemuan singkat kita barokah dan bermanfaat.

akhirnya, saya menjadi lebih bersemangat dalam menjalani hidup. terus memantaskan diri menjadi pribadi dengan value yang tinggi, yaitu yang bisa terus bermanfaat lagi banyak orang. menginspirasi dengan kata, sikap dan tindakan. di sini, di tempat saya berpijak.

Rabu, 06 Februari 2013

pesan singkat untuk semesta


selamat sore, semesta!

ya, semesta... karena saat ini saya ingin menulis hal-hal berbau alam semesta atau astronomi. walaupun tidak ada korelasinya dengan bidang pekerjaan saya dan juga dengan keilmuan saya. tapi begitu melihat dan menengadah ke langit, biasanya ada sedikit aliran darah yang mendesir hingga terkadang merangsang kelenjar air mata (lakrimatori) untuk meneteskan sedikit air yang terkumpul di dalamnya. jika sudah begini, tak ayal saya larut dalam syahdu dan menerawang jauh ke angkasa hingga tergambar indah pemandangan yang terpantul di balik mata dan otak saya.

semenjak SD saya sudah diperkenalkan dengan nama-nama planet yang ada di dalam sistem tata surya kita. ketika belajar IPA, saya termasuk yang sangat antusias dengan bab ini. bagaimana tidak? nama venus, jupiter, saturnus, pluto begitu renyah terdengar di dalam telinga. imajinasi segera melayang ke angkasa sambil membayangkan bila suatu saat menjadi astronot. gagah nian, pikir saya saat itu.

sangat sederhana pelajaran yang saya dapat saat itu, dan saya pikir tidak perlu saya kupas banyak juga. yang akan saya ceritakan adalah hanya bagian-bagian yang cukup berkesan saja untuk saya, dan teman-teman semua semoga :)

dimulai dengan nama-nama planet yang ada dalam sistem tata surya. matahari sebagai pusat tata surya dikelilingi oleh 9 planet cantik yang memiliki karakteristik berbeda-beda. ada merkurius yang sangat panas. venus yang selalu tampil indah dan muncul di kala senja atau fajar dengan berkilauan. bumi si planet biru yang memukau dan ada kehidupan di dalamnya, mars yang khas berwarna merah. jupiter sebagai planet terbesar yang dikelilingi banyak satelit. saturnus dengan cincin yang terlihat mengitarinya. uranus dan neptunus yang cukup jauh dari matahari sehingga memberikan kesan warna biru dan dingin, juga terakhir pluto (entah kini akhirnya masih disebut planet atau tidak).

ah, tampaknya semua serba indah dan membuat saya berdecak kagum. saat kecil saya selalu berpikir bahwa itulah sebaik-baik penciptaan yang ada di alam semesta. tapi sekarang setelah besar, saya menyadari bahwa itu hanyalah sebagian kecil dari proses penciptaan yang memang memukau. tinggal kita mau menyadari itu semua dan mengingatnya atau tidak. seperti yang termaktub dalam Firman ALLAH swt. Q.S. Ali Imron ayat 190-191 berikut ini:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ”Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.”

hingga saya beranjak dewasa, saya masih saja selalu kagum bila mendongakan kepala ke langit. seperti ada suatu magnet yang memaksa saya untuk selalu melihatnya dan bersyukur kagum. hingga suatu hari saya diberikan kesempatan untuk mengunjungi sebuah planetarium di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. kala itu dipertunjukkan keadaan di ruang angkasa melalui simulasi yang sangat menarik. saya cukup histeris (maklum masih usia belasan). sofa tiba-tiba turun seperti setengah berbaring diiringi dengan efek getar laksana tengah berada di dalam apollo yang hendak tinggal landas. tigaaaa, duaaaaa, satuuuuu dan akhirnya kami dibawa menuju ke angkasa!!! indahnya...

ajaib! saya sedang berpetualang di luar angkasa. keinginan saya menjadi astronot terkabul, celoteh saya kala itu. tapi sebetulnya saat itu saya sedang berada di jakarta. dengan kondisi tubuh yang mendongak ke atas sambil mendengarkan narator memberikan pengetahuan setiap objek yang tampil di bawah kubah saat itu, saya masih tersenyum-senyum melihat pemandangan menakjubkan yang terpampang nyata.

subhanallahu, tak salah memang apa yang saya kagumi. begitu sempurna dan membuat bulu kuduk merinding. (terdengar lebay yah?! hehehe). itu adalah salah satu hal yang cukup berkesan untuk saya. hingga akhirnya setelah saya menginjak SMA, saya sempat berkeinginan untuk mendalami astronomi. namun, tenang pemirsa! belakangan saya tahu bahwa dasar dari astronomi itu adalah ilmu fisika. kontan saya berubah haluan dan mulai menyadari kapasitas diri. hehehe. sepertinya ada takdir yang dituliskan untuk saya hanya sekedar takjub saja dengan semesta, dan bukan untuk menghayatinya dalam satu bidang keilmuan khusus :)

sampai saat ini, ketakjuban saya pada langit dan angkasa tidak berkurang sedikit pun. bahkan bertambah. honestly, saya bisa dengan mudah mencucurkan air mata lho hanya dengan melihat ke langit di kala malam hari yang disertai dengan banyaknya gugusan bintang. lukisan langit seperti itu seolah memberikan pesan syukur yang begitu syahdu untuk saya. saya jadi berpikir, semoga saya termasuk yang dikatakan dalam ayat Al Qur'an di atas. aamiin :)

semesta,
izinkanlah saya bertutur hal-hal yang terpikir dalam kepala saya saat ini tentangmu.

dari sini, dari tempat saya berpijak, yaitu tepatnya di galaksi bimasakti, planet bumi, kepulauan indonesia, pulau jawa, kota bogor, saya sedikit berpikir lirih. mengenang begitu banyak kerusakan yang menodai keindahanmu. sejuknya udaramu kini telah banyak dirampas oleh tangan-tangan jahil dengan dalih kemajuan peradaban. peradaban yang belum tentu mendapatkan restu dari Sang Pemilik Semesta ini. hijaunya floramu, kini telah digantikan dengan gedung-gedung tinggi berwarna-warni. gedung yang belum tentu bisa membawa ke puncak kebahagiaan. birunya langitmu, kini telah berbaur dengan gas beracun yang banyak orang bilang itu sebagai roda perekonomian. tapi tepatnya adalah perekonomian kapitalis yang membawa kepada jurang kehancuran.

dari sini, dari tempat saya bisa menulis tulisan ini, ingin saya sampaikan suatu pesan lembut untukmu, semesta: tetaplah bersabar dengan segala perilaku dan tingkah pongah penghuni yang menguasaimu, karena akan tiba suatu masa kau akan hancur sejadi-jadinya manakala sebuah terompet Israfil berkumandang. tetaplah turuti titah pemilikmu dengan sebaik-baik penghambaan, karena bagaimanapun engkau tetap diperlukan untuk menopang kehidupan yang mulai melantur ini.

dari sini, dari tempat saya memikirkan engkau, bantulah saya memahami makna kehidupan denganmu, semesta... saya yang begitu kecil ini, memiliki impian dan cita-cita yang tinggi setinggi saya ingin menjangkaumu. tak pantas rasanya saya sombong karena hanya setitik kecil di alam semesta ini. tak pantas rasanya saya malas dan berpaling manakala engkau senantiasa melaksanakan titah Tuhanmu dengan tulus.

semesta,
bantulah saya menunjukkan bagaimana caranya memperlakukanmu dengan luhur, sehingga banyak orang sadar bahwa engkau adalah bagian dari yang ALLAH siapkan laksana bom waktu. engkau siap menerima pesan kalam Tuhan melalui hujan besar, petir dan badai. engkau siap menerima perintah Tuhan melalui longsor, banjir, tsunami, gempa, dan kawan-kawan lainnya.

semesta,
malu rasanya bila saya terlampau cuek untuk tidak memperhatikanmu, padahal ada perintah untuk senantiasa mengingatmu dalam kondisi berdiri, duduk atau berbaring. janji! akan selalu saya ingat dan tafakuri keberadaanmu, sehingga saya akan bisa mengingat siapa pemilikmu dan untuk apa saya hidup menjadi bagianmu.

teriring janji yang siap membumbung tinggi ke angkasa menemui planet-planet, meteor-meteor, komet-komet, satelit-satelit, bintang-bintang dan benda langit lainnya.
dari seorang anak manusia yang mengagumi keelokan pesonamu.

salam,
bogor, 6 februari 2013

Selasa, 29 Januari 2013

sapaan untuk sang kawancerita

selamat malam, kawancerita...
sudah hampir 5 hari saya tidak menjumpaimu. kali ini saya temuimu dalam syahdunya malam yang berselimutkan keberkahan-Nya. hanyalah sebuah sapaan mesra yang ingin saya sampaikan:




tetaplah menjadi kawancerita, walaupun orang lain sudah mulai malas mendengarkan cerita dan kisah saya
tetaplah menjadi kawancerita, manakala saya perlu kamu untuk sekedar bercakap dengan ditemani secangkir teh manis hangat
tetaplah menjadi kawancerita, di saat saya perlu menumpahkan apa yang ada dalam pikiran saya
tetaplah menjadi kawancerita, yang seperti sekarang, yang tetap bersahaja membagikan kisah pada sekelumit orang yang bersedia membacamu dengan tulus walaupun baru merangkak
tetaplah menjadi kawancerita, yang senantiasa menginspirasi banyak orang

sampai suatu ketika, walaupun saya sudah mendapatkan kawancerita sesungguhnya, tolong tegur saya bila mulai melupakanmu, tolong ingatkan saya manakala kamu mulai saya nomorduakan. tapi, semoga tidak!

ah, sudahlah pada akhirnya kamu akan tetap menjadi kawancerita yang akan tetap saya kunjungi dan saya hias dengan kata demi kata sehingga terangkai sebuah kalimat inspiratif. yang akan saya bubuhi kalimat demi kalimat sehingga bermetamorfosis menjadi sebuah cerita yang bermanfaat bagi sekelumit orang yang bersedia membacamu.

sampai para pembaca tahu siapa sesungguhnya pribadi hebat yang selalu membuatmu lebih baik dan lebih baik lagi.

sayalah pemilik kamu,
mari bersinergi membuat kumpulan cerita indah yang siap mewarnai kerumitan dunia yang mulai terasa!
semangat, kawancerita...
saya akan selalu ada di sampingmu.