Kamis, 20 Agustus 2015

badminton paling emosional

10 jam yang lalu, saya baru saja memainkan laga semi final dan final badminton di kantor. turnamen senior (seni dan olah raga) ini sengaja diadakan setiap tahun untuk mengasah kemampuan karyawan dalam bidang seni dan olah raga. alhamdulillah setelah melewati 3 permainan sebelumnya, saya sampai ke babak semi final yang digelar kemarin.

menariknya adalah siapapun team yang menang di semi final, akan dilanjut langsung ke final pada hari yang sama. cukup kerasa bukan lelahnya bagaimana? hehehe.

saya datang ke lapangan bersama mustofa. tiba di lapangan, tak beberapa saat team QC cibitung juara pun mulai datang bermunculan hendak memberikan dukungan. melihat ini, saya jadi teringat turnamen kejuraan badminton dunia (BWF) yang digelar pekan kemarin di jakarta. "mungkin seperti ini ya perasaan para pemain badminton indonesia yang musti bermain di tengah harapan penonton". ada tekanan, ada perasaan ingin memberikan yang terbaik, ada rasa senang karena merasa didukung. tapi bagi saya ada satu lagi tambahan, yaitu ada rasa terharu menyelimuti benak.

ya, saya terharu sekali dengan kehadiran rekan-rekan team QC cibitung juara. mereka seolah berkonspirasi mendukung saya (atau mungkin lebih tepatnya mendukung departemen QC), walau saya tak tahu apa motivasi mereka masing-masing hadir di lapangan. tak penting lagi bagi saya apa itu, yang pasti kehadiran mereka memberikan semangat tersendiri untuk saya.

pertandingan saya maknai bukan lagi sebagai pertarungan menang kalah. lebih jauh dari pada itu, saya menganggap bahwa ini perkara ikatan emosional. apakah saya laik diperlakukan seperti itu oleh mereka? tatkala saya juga melihat, tak ada dari departemen lain yang team-nya menyengajakan diri datang mendukung perwakilan departemennya. itu lebih lagi membuat saya merasa "apakah pantas saya dibeginikan". tak mau pusing, sekarang porsi saya adalah bermain sebaik mungkin.

dan fakta di lapangan kemarin, saya berhasil memenangkan laga semi final, dan jeda satu jam kemudian, saya pun berlaga kembali di partai final. sayang sekali, takdir mencatat bahwa saya memang harus puas berada di juara dua. saya dan partner (dimas dari departemen warehouse raw material) harus tumbang dan bersyukur sampai di tahap itu.

saya bersyukur. bersyukur sekali bahkan, karena seperti yang saya katakan tadi, pertandingan ini bukan hanya sekedar menang dan kalah, tapi bagi saya, sudah berubah menjadi sebuah perasaan haru akan pengertian sebuah "ikatan emosional". seumur hidup saya bermain badminton, inilah badminton yang penuh dengan perasaan emosional. hehehe...

bukan karena emosi marah-marah, tapi sebaliknya. karena ada kesan haru yang dibuat oleh team QC cibitung juara. team anak muda yang kental akan nuansa muda, partisipatif, aktif, energik, gesit, ilmiah dan yang terpenting adalah saling mendukung. saya rasa, mereka menunjukkan itu. setidaknya, menurut saya...

terima kasih, sahabat :) saya bisa sampai di laga final, tak lain dan tak bukan karena izin ALLAH dan dukungan kalian juga. maafkan juga jika hasilnya tidak sesuai harapan. sampai jumpa di pertandingan tahun depan!

team QC cibitung juara (ditambah sherly, catur, wayan, angga, yola, dan mas galih)

Senin, 17 Agustus 2015

sebuah buku berjudul "ayah"

tak seperti biasanya, setelah merobek bungkus plastiknya, saya sengaja mengibaskan halaman demi halaman buku baru tersebut dengan cepat, supaya angin bersentuhan dengan bau kertas baru dari percetakan yang aromanya tidak bisa dideskripsikan. nyaman!

buku yang ada di tangan saya ini sudah launching beberapa bulan silam. tapi saya baru saja berkesempatan membelinya. motivasi saya adalah ingin tahu jalan cerita dan gaya penuturan penulisnya yang konon katanya mengalami perubahan setelah cukup banyak mendapatkan penilaian dari pakar dan penulis lain.

"ayah" judul buku tersebut. baru dua chapter yang saya baca. "purnama kedua belas" dan "radio". dari situ saja saya seperti sudah termanjakan dengan gaya penuturannya yang detil dan tajam. penggambaran akan kondisi sesuatu diceritakan dengan bergizi. entah bagaimana ke depannya. dan entah berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk membaca hingga chapter terakhir yang judulnya sama dengan chapter pertamanya, yaitu "purnama kedua belas".

sumber gambar: fatherhood.id

semoga andrea hirata melalui "ayah"-nya ini bisa menjadi santapan saya untuk memperkaya diksi dan mempelajari gaya penuturan dalam menulis novel. hanya untuk belajar dan tahu. itu saja. cukup!

terima kasih :)

ketika gemes

menjadi orang yang mudah gemes bin kesel dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati bukanlah perkara yang mudah. seringkali saya komat kamit sendiri, komplain pada apa yang dirasa tidak sepantasnya demikian, bahkan sering disebut tukang komentar (apapun itu).


terkait dengan itu, dua hari yang lalu ketika saya mengantarkan istri ke dokter, kegemesan saya sempat naik pada kadar "agak kesel". bahkan saya sempat sedikit menegur petugas yang tengah berjaga siang itu. apa pasal?

bermula dari istri saya yang mendekati sekumpulan petugas--yang sebagian tengah duduk-duduk dan sebagian lagi berdiri tanpa aktivitas--di meja penerimaan pasien untuk bertanya satu hal. ingat ya: sekumpulan petugas. tepatnya yang saya lihat adalah ada 6 orang petugas jaga di 1 meja yang saya perhatikan sebetulnya kegiatan di situ bisa dikerjakan oleh 3 orang saja, yaitu mengukur tensi, menimbang pasien dan mencatat administrasi.

istri saya sebetulnya hanya ingin menanyakan urutan pasien yang sudah diperiksa sang dokter. lantas si petugas menjawab: "ketuk saja pintu ruangan dokternya, bu. silakan ditanyakan langsung." karena merasa kagok kali ya, alih-alih istri saya beneran mengetuk, yang ada dia kembali ke tempat duduk semula menemui saya yang tengah asyik membaca. sejurus kemudian ia melaporkan jawaban si petugas kepada saya.

mendengar laporan seperti itu, saya segera bangkit. buku yang tengah dibaca, saya tutup dan saya berjalan ke arah meja petugas. "maaf, mbak dokter xxx saat ini sedang memeriksa pasien nomer berapa ya?" tanya saya dengan wajah ramah. si petugas menyimak pertanyaan saya, dan tampaknya ia tahu bahwa saya adalah suami dari perempuan yang belum semenit lalu bertanya padanya. kemudian si petugas pun menjawab hal yang sama dengan apa yang disampaikan kepada istri saya, padahal jelas sekali saat saya menghampiri ke meja tersebut, sedang tidak ada kegiatan apapun alias idle. hanya mengobrol dengan rekan sejawatnya.

kemudian saya dengan air muka yang mulai terlihat kurang sabar: "mbak, minta tolong untuk mbak yang menanyakan ke dalam, kalo saya takut kurang sopan. kalo mbak kan sama-sama petugas rumah sakit." petugas perempuan tersebut menjawab: "ok, ditunggu aja ya" dengan muka yang terlihat sedikit bete. dan sampai saya duduk kembali ke tempat saya semula, saya terus memperhatikan dan sengaja memberikan intensi khusus untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh si petugas tersebut. nihil! saya tak melihat ia bergerak berjalan ke arah ruangan dokter. alih-alih itu, kehadiran pasien-pasien baru membuat dia "terlupa" dengan permintaan saya. huft.

baiklah, bisa jadi kondisi sebetulnya adalah saya salah sangka saat itu. saya terlalu berpikir negatif padanya. tapi karena gemes melihat sesuatu yang sederhana tapi tidak dikerjakan olehnya, saya jadi ngomel-ngomel sendiri sambil membaca buku. istri saya berusaha menenangkan, tapi saya malah ceramah panjang lebar. hahaha. istri saya mulai tidak suka. dan kami pun terdiam hingga akhirnya nama istri saya dipanggil setelah 10 menit kemudian. alhamdulillah.

bukan ingin mempermasalahkan hal sederhana seperti itu, tapi sebagai seorang karyawan yang sedikit mengerti tentang teori service excellent dan juga lean manufacturing, saya menangkap 2 hal pada kasus tersebut: pertama adalah pelayanan yang tidak berorientasi pada kemudahan konsumen dan yang kedua adalah saya melihat "waste" di situ. banyak SDM tapi kurang termanfaatkan secara efisien. lebih banyak nuansa ngobrolnya.

karena levelnya masih belum terlalu "hot", saya tidak sampai kepada tahap komplain. padahal rasa gemes sudah sampai di ubun-ubun. istri saya masih saja berusaha menenangkan saya yang merasakan langsung penyakit komplain saya yang kambuh tersebut. *usap dada, beristighfar dan kembali membaca buku walau masih merasa ada yang mengganjal di pikiran. belum plong.

dari pengalaman itu, saya jadi bisa berempati kepada pak ahok yang konon katanya sering marah-marah. saya yakin ia berlaku begitu bukan tanpa alasan, tapi didasari karena rasa gemes dengan kinerja dan kondisi yang ada. gemesnya sudah sampai di ubun-ubun. mungkin karena kinerja bawahannya yang masih belum sesuai ekspektasinya. atau kondisi-kondisi tertentu yang memang dinilai tidak masuk akal, sehingga perlu dikritisi. di situlah saya melihat bahwa sebetulnya perasaan gemes itu dikarenakan adanya proses berpikir dan merasa perlu untuk mengkritisi sesuatu.

ya, terlepas ada baik buruknya, tapi yang pasti gemes pada sesuatu yang tidak sesuai itu sebetulnya bikin capek hati. kadang diperlukan embun penyegar yang bisa mengademkan ubun-ubun. ingat kembali pada prinsip bahwa tak ada gading yang tak retak. tak ada yang sempurna dalam hidup ini kecuali ALLAH, sehingga ketika kita melihat ketidaksesuaian, diperlukan esktra sabar. memang tak salah bila justru menjadi gemes dan akhirnya kritis, tapi jangan lupakan untuk fokus juga pada apa yang kira-kira bisa kita lakukan untuk memperbaiki kondisi tersebut. bukan hanya sebatas rasa gemesnya saja tanpa aksi. sepakat?

baiklah sudah malam... sudah dulu ya, lagi gemes nih! hehehe :)

Minggu, 16 Agustus 2015

perpustakaan dan sains

ketika jalan-jalan sore membersamai bumil kemarin, saya mengabadikan 2 gambar, yaitu gedung perpustakaan universitas indonesia (UI) dan science park yang ada di sebelahnya. sebetulnya dua landmark UI ini sudah sering saya lewati, tapi baru kemarin tetiba iseng mendokumentasikannya.

1. perpustakaan UI
saya cukup gemar dan hobi membaca. walau hanya tertarik pada genre-genre tertentu (motivasi, islam, novel berisi nilai-nilai kehidupan). hampir setiap hari ada saja yang saya baca, setidaknya satu buah buku pasti ada di tas yang setiap hari saya bawa. perkara dibaca atau tidak, tergantung dengan kondisi lalu lintas di jalan. tapi sebisa mungkin selalu saya sempatkan.

bagi saya, membaca seperti masuk ke dalam dimensi pengetahuan yang tidak terbatas. apa yang dibaca selalu menyuguhkan hal-hal yang sama sekali baru ataupun sudah sering diketahui tapi tetap terasa "baru". ketika membaca, pikiran dan imajinasi merasa tiada habisnya, ada saja hal baru yang masuk dan  meminta untuk dicerna. dan dengan membaca, saya semakin merasa tidak tahu apa-apa. nah lho? gimana yang ndak suka baca coba?

bangunan yang diasosiasikan untuk membaca dan mencari sumber bacaan adalah perpustakaan. perpustakaan UI ini bangunannya bagus dan unik (kalau tidak mau dibilang aneh). di dalamnya tersimpan entah berapa banyak koleksi buku, jurnal, dan sumber bacaan menarik lainnya dari berbagai displin ilmu. saya jadi teringat akan para pemikir islam yang pernah bersinar di cordoba, andalusia pada masa lalu. barangkali banyak juga mahakarya mereka yang tersimpan di dalam bangunan unik tersebut.

perpustakaan UI yang mirip dengan markas power ranger

perpustakaan adalah gudangnya ilmu. di tembok perpustakaan ini bahkan tertulis kalimat "the crystal of knowledge". betapa pengetahuan memang begitu diagungkan dan diharapkan mengkristal menjadi pegangan hidup. bahkan ALLAH tampak memberikan perhatian khusus kepada umat manusia untuk selalu mau membaca seperti yang disampaikan pada ayat pertama yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw.. manusia juga dituntuk untuk mau dan sanggup mempelajari tanda kekuasaan-Nya serta berpikir kritis dengan panduan-Nya berupa Al Qur'an. itu semua adalah bukti betapa ALLAH menaruh porsi yang besar terhadap ilmu pengetahuan. terang saja, karena dengan ilmulah seseorang akan naik derajat dan dengan ilmu pulalah seseorang bisa selamat. karenanya, teruslan istiqomah belajar, membaca dan mengejar ilmu dengan panduan yang benar. semangat! \^^/

2. science park
saya termasuk orang yang menyukai sains. biologi, kimia dan astronomi adalah bidang yang saya minati, bahkan dulu sempat mengidamkan bisa turut menjadi peserta olimpiade sains nasional atau internasional. walau belum berhasil, tapi tak mengapa, karena kesukaan saya pada sains bukan karena itu, tapi karena...

sains telah banyak membuka mata saya untuk kagum akan ketentuan ALLAH yang luar biasa. sunatullahnya membuat kita tahu betapa megahnya kisah sel kecil yang bisa melakukan sintesa protein. kisah planet-planet yang selalu disiplin bergerak dalam garis edarnya. kisah metamorfosis kupu-kupu yang tanpa cela sedikit pun. itu semua tunduk dan patuh akan ketentuan ALLAH. luar biasa kece ya?

sains telah membuat saya hidup penuh syukur karena telah banyak kemajuan teknologi dan aspek kehidupan lainnya yang ditunjang oleh kemajuan sains yang gemilang, berikut penemuan-penemuan penting dan tokoh-tokohnya. berharap suatu saat saya pun bisa menyumbangkan kemajuan tersebut. aamiin yaa robbana.

sains telah membuat saya termotivasi mempelajari islam lebih banyak lagi, karena saya percaya bahwa islam dan sains banyak yang berjalan seiringan. sains hanyalah pembuktian akan kehebatan ALLAH yang diturunkan melalui wahyu-Nya sekitar 14 abad yang lalu. belakangan ini banyak sekali penemuan-penemuan ilmiah yang baru terbukti, padahal ALLAH sudah menyampaikannya sejak 1.400 tahun silam. sebuah bukti bahwa ALLAH tak tertandingi. perancang cerdas, sedangkan kita selaku manusia begitu bodoh.

the scientist :) aamiin

karena semua itulah, saya menyukai sains, dan senang sekali sore kemarin iseng foto di dekat gedung science park tersebut. hehehe.

yup, itulah makna jalan-jalan sore kemarin. walau hanya satu jam dan begitu sederhana, tapi jika mau menyikapi dengan "ilmu", ternyata ada saja hikmah yang bisa didapat. kapan-kapan jalan-jalan sore lagi ya, bumil?! :)