Sabtu, 05 April 2014

tentang say "yes" and or "insha ALLAH"

selamat pagi...

alhamdulillah otak ini masih diberikan kecemerlangan untuk menelaah fenomena yang ada untuk kemudian dituangkan dalam tulisan. dan alhamdulillah-nya lagi jari ini masih bersinergi lincah untuk mengetiknya dalam blog ini.

tulisan pertama di bulan april sekaligus bulan jumadil akhir. tentang apa? yuk kita kemon.

menjelang hari bahagia saya, beberapa do'a dipanjatkan oleh rekan-rekan, baik rekan kantor, rekan semasa SD, SMA, rekan semasa kuliah dan juga rekan-rekan seperjuangan saya. alhamdulillah dan aamiin ya robbal alaamiin, semoga para malaikan turut serta meng-aamiini doa-doa baik yang dipanjatkan.

bukan hanya sekedar do'a, beberapa orang memberikan respon yang membuat saya terharu. mereka begitu excited dengan berita yang saya kabarkan. bahkan melebihi saya luapan excited-nya. hehehe. untuk ini, sekali lagi saya ucapkan alhamdulillah.

salah satu teman yang paling membuat saya terharu dari semenjak awal saya memberitakan kabar bahagia ini adalah rekan semasa kuliah dulu. ia mengirimkan pesan whatsApp secara personal. pertama ketika setelah saya mengabarkan info ini di group, lalu dia reply personal dan saya meminta do'a padanya. kedua kalinya adalah semalam. dalam pesan whatsApp dia bilang bahwa dia terharu dengan berita bahagia saya. dia memberikan do'a tulus yang berhasil membuat saya pun ikut terharu.

lantas dia berkata sesuatu yang menurut saya ini adalah pemikiran yang bisa jadi dilupakan oleh banyak orang: "hadi, buat saya ada konsekuensi besar tiap kita mengiyakan permintaan teman kita untuk mendo'akan. tiap teman kita bilang 'do'akan ya!' dan kita jawab dengan 'iya, aku do'akan', buatku kita punya tugas wajib untuk benar-benar mendo'akannya, jadi bukan hanya sekedar mengiyakan. caranya ya benar-benar dengan memohonkan kepada ALLAH tiap kita habis sholat seperti yang aku lakuin buat kamu". bayangkan, dia menyebut nama saya dalam do'anya. sungguh teramat terharu saya. semoga do'a indahnya dikabulkan oleh ALLAH swt. aamiin. dan saya pun turut mendo'akan atas keberhasilannya menempuh studi S2 dan menjadi Master of Science di Universitas Gadjah Mada. congratulation, sist :)

ok, point yang ingin saya bahas kemudian dari fenomena ini adalah mengenai konsekuensi ketika kita mengiyakan sesuatu.

tak jarang bukan dalam kehidupan dan aktivitas yang kita lakukan, kita dengan mudah berkata "iya"? misalnya ketika diminta mengerjakan sesuatu oleh bos, menjanjikan untuk memberikan sesuatu, dan lain sebagainya. tanpa sadar saya cukup sering berkata "iya" dan terkadang diselingi dengan "insha ALLAH". teramat besar janji yang melekat ketika berkata "iya", dan kalaupun ditambah dengan "insha ALLAH", itu pun akan ditagih. jadi sebaiknya ucapan "insha ALLAH" itu tidak sembarangan. jika kemungkinan besar tidak bisa, sebaiknya tetap gentle untuk bilang "maaf, tidak bisa". karena sekali lagi bahwa "insha ALLAH" pun akan ditagih supaya kita tidak menggampangkan untuk berjanji.


hmmm, saya langsung merefleksikan diri apakah setiap kata "iya dan insha ALLAH" yang terucap dari lisan saya ini sudah benar-benar saya jalankan secara praktiknya? dan jawabannya secara jujur masih ada hal-hal yang terlewat. sebagai manusia dan miliki keterbatasan daya ingat, saya terkadang lupa dan lalai untuk mem-follow up dari setiap janji yang saya katakan, even itu sesimple berkata "ya, saya do'akan" seperti yang disampaikan oleh teman saya di atas tersebut.

namun, bukan berarti juga apa-apa yang saya iyakan tersebut tidak banyak yang betul-betul saya kerjakan, saya belajar untuk selalu menepati apa-apa yang sudah saya sanggupi. salah satu caranya adalah dengan membuat to do list atau apa-apa yang perlu saya follow up supaya tetap ingat dan tidak lupa. terlebih lagi, dalam pekerjaan saya saat ini cukup banyak yang perlu dikoordinasikan dalam team yang begitu beragam, dan dalam masa transisi yang pastinya masih banyak masalah dan hal-hal yang harus diperbaiki.

terima kasih banyak, saudara iffah muflihati atas pemikiran yang cemerlang ini. membuat saya terinspirasi untuk menuliskannya dalam blog. dan semoga siapapun yang membaca ini, bisa mengambil hikmahnya supaya kita bisa terhindar dari salah satu ciri orang munafik, yaitu apabila berjanji ia mengingkari. na'udzubillah.

terakhir, secara random tapi masih ada hubungannya: semoga di pemilu mendatang banyak pejabat yang tidak mudah mengumbar janji, karena setiap kata yang keluar otomatis akan diminta pertanggung jawabannya kelak. yes, akan! sekecil apapun itu. "so, becareful to say 'yes' and or 'insha ALLAH'. it has a consequences, bro/sist!"

ditulis di bandung, lima jumadil akhir seribu empat ratus tiga puluh lima hijriah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar