Selasa, 11 Juni 2013

Perang Bisul I (1 Sya'ban 1434 H)


tulisan yang saya tulis semalam, tapi saya publish pagi ini karena tidak ada koneksi internet semalam. selamat membaca :)

Assalamu’alaykum wr. wb.
Selamat malam semua,

Akhirnya bertemu lagi setelah blog ini seolah saya nomorsekiankan. Mohon maaf ya… Tiada maksud seperti itu, tapi kondisi yang terkadang membuatku harus memilih. Seperti malam ini, saya memilih menghabiskan waktu malam dengan menghiasimu kembali dengan untaian kalimat yang super. Super jeprut! Hahaha. 

Baiklah, kita mulai saja. Tak usah basa basi lagi. Segera pecahkan bisulnya. Hehehe. Ya seperti judul tulisan saya kali ini, apa sih sebetulnya yang dimaksud dengan Perang Bisul I ini? Dan mengapa pula namanya seperti itu? Cekidot, gan…

Begini, apakah kawan-kawan ada yang pernah mengalami bisulan? Jika pernah, apa yang dirasa? Panas dingin? Merinding disko? Ga enak makan dan tak enak tidur juga tidak enak duduk? Eits, lebay banget. tergantung kali! Kalau bisulnya di muka, plus tambahan ga enak ketemu cemceman juga kali ya?! #eh.

Nah seperti bisulan dalam arti yang sebenarnya itu, beberapa bulan terakhir ini (tepatnya 2 bulan 7 hari 5 jam 37 menit dan 8 detik) saya mengalami hal yang mirip kayak bisulan tersebut. By the way, itu beneran angka seigitu? Hahaha pasti ngasal lah ya… oops, balik ke topik.

Iya, kawan. Sejak enam bulan yang lalu saya mutasi alias pindah pekerjaan ke bidang yang berbeda dengan sebelumnya. Di departemen sebelumnya saya asyik meramu membuat hidangan untuk penduduk Nigeria, Philippine, Kuwait, Arab Saudi dan Thailand dengan jas laboratorium bertuliskan R&D di bagian punggungnya (penting! Hahaha). Namun, pinangan departemen yang sangat hobi sampling-menyampling tak kuasa saya tolak. Akhirnya mulailah saya bergabung dengan komunitas alay yang isinya kebanyakan anak muda yang baru satu dua tiga tahun lulus SMK. 9!L@ 4L@Y b3uUTt d3Gh p0KoKNy@ m3ReKA tTcUHh. Hahaha inilah bukti saya sudah tertular. Tapi to be honest, saya sangat menikmati hari-hari berada di departemen baru ini. Quality Control (QC) namanya. Tampak terdengar gagah bukan? #tsah 

Singkat cerita, 6 bulan saya lewati dengan suka duka. Beradaptasi dengan pekerjaan baru bukan hal yang mudah bagi saya. Ada rasa gembira luar biasa, cemas tak beralasan, fun to the max, sindiran jomblo yang tak berkesudahan, hingga masa-masa melankolis dalam kesendirian pernah saya alami, Semuanya bercampur menjadi satu hingga suatu saat menuju akhir masa 6 bulan saya di QC saya seperti terjangkit sebuah penyakit. Sebuah penyakit yang berasal dari dalam pikiran diri sendiri. Sebuah penyakit yang saya sadari obatnya adalah dengan perlawanan. DILAWAN. TITIK. Penyakit apakah gerangan?

Sepertinya sudah menjadi sebuah pakem perusahaan di tempat saya bekerja, siapapun yang pindah departemen baik mutasi maupun promosi, haruslah melewati tahap yang dinamakan PRESENTASI. Nah, 10 huruf inilah yang didiagnosa menjadi sumber dari penyakit yang saya sebut tadi. Penyakit yang rasanya seperti bisul. Membuat tidak nyaman dan bawaannya ingin segera dipecahkan. Bucat mun ceuk urang sunda mah. Bucat bisul!

Penyakit ini terasa semakin ganas dan menggerogoti pikiran saya di 1 bulan terakhir ini. Pikiran yang digerogoti tersebut acapkali membisikkan mengenai project yang akan dan harus saya presentasikan. Sungguh seperti bisul yang membuat kurang rileks dan seolah membelenggu. Namun, bukan Suhadi jika menyerah di tengah jalan. Ceile lagak gue! Hahaha. Saya tetap bertahan dan semakin mencoba mematangkan konsep. Apa yang terlintas oleh saya akhirnya saya jadikan sebagai project yang bisa saya presentasikan. Dan hari ini, 1 Sya'ban 1434 H (awal dari salah satu bulan yang baik) yang bertepatan dengan tanggal 10 Juni 2013, tibalah masa saya untuk membuat si bisul pecah setelah sebelumnya di-PHP-in bakal pecah di 5 Juni 2013 yang bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (halah, penting banget sampai segitunya. Hehehe). OK, Perang Bisul I pun segera dimulai. Dan inilah kronologis kejadiannya:


“Senin pagi di hari dan tanggal baik ini akan menjadi sejarah yang indah untuk saya”. Itulah yang ada dalam pikiran saya setelah bangun tidur dan sahur tadi pagi. Setelah mandi dan shalat saya lanjutkan membaca literature pendukung. Setelah berkemas dan menyiapkan persenjataan yang ada, tak lama berangkatlah saya ke medan perang.

Di perjalanan dengan menaiki angkot, saya menerima sebuah pesan via WhatsApp dari seseorang yang memberikan semangat kepada saya untuk menaklukan medan perang. Yes, mood booster sekali ini. Hehehe. Di dalam angkot, saya juga mengontak teman kantor saya yang saya percaya, yaitu Ranilia untuk menjadi checker slide saya dalam hal grammar-nya. Maklum si saya ga terlalu lihay berbahasa bule. :p

Waktu masih cukup pagi ketika saya sampai di kantor. Jarum jam membentuk siku di angka 6 dan angka 3. Pagi seperti ini terasa damai sekali. Dibantu oleh Pak Mulyono yang merupakan tim security di shift 1, saya ambil kunci ruangan kerja saya. Entah mengapa saat itu saya merasa mereka begitu dekat. Yes, mood booster kedua hinggap.

Sampai di rungan kerja, saya membuka laptop, perbaiki dan baca bahan pendukung. Tak lama nama NF Ranilia muncul di layar handphone saya. Dia sudah datang dan siap menjalankan tugas mulianya. Hahaha. Akhirnya masalah grammar beres. Terima kasih sangat ya, Ranilia :) cocok jadi guru bahasa inggris ni si gadis pecinta lily dan sangat sayang sama pacaranya ini. peace! Hahaha. Mood booster ketiga disponsori oleh Ranilia.

Tak lama, saya mendapatkan SMS dari manager saya yang bernama Pak Hilman Shadaq. Isinya adalah memberitahukan bahwa “gladi resik” presentasi akan diadakan di pukul 09:00 WIB karena beliau terjebak macet. Ini artinya 1,5 jam sebelum perang dengan misi “pecahkan bisul atau kau semakin terbelenggu” pun dimulai. Dan yang dinanti tiba. Saya sampaikan isi presentasi kepada beliau. Beberapa perbaikan dan kemungkinan pertanyaan yang akan muncul beliau sampaikan dengan baik hingga tepat di pukul 10:30 WIB. Walaupun gladi resik berjalan dengan waktu yang seolah dikejar hantu, tapi saya usahakan tetap rileks. Sesekali saya komat kamit melafalkan do’a kelancaran, kemudahan dan keselamatan untuk menghadapi Perang Bisul I yang sudah dalam hitungan menit lagi ini. Pak Hilman yang mungkin melihat air muka saya yang mulai tegang berujar: “tenang, Di.” Alhamdulillah mood booster dengan energi tinggi ditransfer oleh beliau yang sejak dari awal saya menginjakkan kaki di PT. Nutrifood dan mengenalnya saya sangat terkesan dengan kebaikan dan kebijaksanaannya. Syukron katsir ya, Pak Bos :)

Dan ketika saya betul-betul memasuki arena perang, seorang perempuan bahkan sudah siap di medan yang akan saya taklukan itu. Beliau adalah Ibu Irene Triyanti, seorang manager R&D yang saat tadi mengenakan baju orange yang indah. Sambil menyiapkan arena laga yang dibantu oleh tim IT, saya siapkan file tersebut dan standby di slide pertama berjudul “presentasi QC” yang di baris bawahnya tertulis nama saya sebagai penyajinya.

Tak disangka di saat masih menunggu kehadiran audience yang lain, sebuah SMS masuk kembali ke handphone saya. Ada 2 pesan yang masuk agak bersamaan. 1 dari teman kantor saya yang rencananya akan saya ajak untuk lari (lari dari kenyataan) setelah Perang Bisul I ini berakhir. Hahaha galau amat. Sedangkan 1 SMS lagi datang dari adik saya bernama Ridwan Taufik. Sebuah pesan yang membuat saya seolah diberikan energi maha dahsyat untuk semakin konfiden menaklukan perang ini. Dari SMS-nya saya simpulkan bahwa semenjak awal try out di Nurul Fikri Bandung sebagai persiapan mengikuti SBMPTN, baru kali ini ia lolos untuk ketiga pilihan yang dipilihnya. Alhamdulillah. Bangga! Semoga menjadi pertanda baik untuk bisa menaklukan perang SBMPTN juga untuknya. Aamiin. Alhamdulillah mood booster yang kelima dipersembahkan oleh adik kesayangan saya.

Setelah semua audience hadir, akhirnya perang saya mulai dengan pembukaan. Project pertama saya sampaikan dengan semangat. Saya mendengar kalimat demi kalimat keluar dengan tempo cukup cepat dari mulut saya. Ok, rem sedikit. Audience mulai menunjukkan gairahnya walaupun masih di slide-slide awal. Beberapa pertanyaan disampaikan kepada saya secara intensif dari hampir semua audience yang hadir. Slide demi slide terus dibanjiri pertanyaan dan juga masukan. Panas! Greng! Saya mulai terbawa suasana dan sangat menikmati presentasi ini. Yes, panggung ini milik saya! Penyampaian saya dalam perang tersebut masih terus ditata dengan baik walaupun beberapa ada yang diterima dengan kurang baik. Pertanyaan saya jawab dengan sepengetahuan yang saya miliki, sedangkan masukan saya simpan dan ucapkan terima kasih. Ayo terus, terus dan terus.

Ketika hampir di slide-slide akhir, saya seperti seolah ingin tumbang kehabisan senjata di Perang Bisul I ini. Saya ingin waktu berjalan lebih cepat lagi karena saya rasa sang bisul sudah hampir di ujung tanduk. Bisul yang mau pecah ini rasanya seperti panas dingin. Ingin segera diselesaikan dan pecah. Ayolah sedikit lagi, terus, dan akhirnya waktu jualah yang membuat bisul ini benar-benar pecah. Plong!!! Rasanya saya telah memenangkan perang dan musuh terangkat sudah ditandu menuju pemakaman. Alhamdulillah.

Jadwal presentasi yang diplotkan selama 1 jam saja akhirnya terpaksa harus selesai dengan waktu 2,5 jam. Rekor saya presentasi selama itu. Coba kalo saya jadi seoarang trainer motivasi, entah sudah dibayar berapa. Hahaha…

Dan berakhirlah Perang Bisul I yang akhirnya saya menangkan. Saya telah berhasil menumbangkan penyakit beban dan pikiran kurang sehat yang selama ini seolah menjajah saya. Rasanya memenangkan pertempuran itu memang dahsyat. Saya terbayang bagaimana Rasulullah saw. dan para sahabat ketika menang dalan aneka perang yang pernah dilaluinya. Alhamdulillah. Sebuah sujud syukur akhirnya saya tundukkan setelah saya menunaikan sholat dzuhur yang terpaksa telat karena perang. Hehehe.

Alhamdulillah, saya telah melewatinya. Ikhtiar telah saya optimalkan, sekarang saya tinggal menunggu kabar baik selanjutnya yang sudah disiapkan oleh ALLAH untuk kehidupan saya. Apapun hasilnya saya akan terima dengan ikhlas. Setidaknya satu prestasi telah saya torehkan di 1 Sya’ban 1434 H ini, perang melawan kekhawatiran sendiri. Perang melawan beban pikiran yang sebetulnya sudah selama hampir 2 bulan bercokol laiknya penjajah. Perang melawan penjajah yang telah membuat saya merasa kurang nyaman untuk leluasa melakukan banyak hal. Dan saya namai ini sebagai Perang Bisul I. Lantas, berarti akan ada Perang Bisul II kalau begitu? Saya jawab, ya karena Perang Bisul II sudah akan menanti yang diprediksi akan terjadi di akhir Juni 2013 ini. Semangat, Suhadi. Siapkan mental dan senjata untuk menaklukan Perang Bisul II, dan tentunya selalu sertakan ALLAH sebagai penolong abadi :)

Begitulah, kawan sekilas mengenai detik-detik berjalannya Perang Bisul I yang berakhir di 1 Sya’ban 1434 H pukul 13:10 WIB. Apa hikmah yang bisa diambil dari sejarah ini?

Saya percaya setiap orang memiliki kekhawatiran tersendiri dalam dirinya. Bagi seorang pelajar, kekhawatiran itu mungkin berbentuk kecemasan tidak lulus UAN. Untuk seorang mahasiswa, kekhawatirannya mungkin ketika menjalankan sidang skripsi dan khawatir tidak perform dengan baik. Dan segala bentuk kekhawatiran lainnya yang seolah dimunculkan oleh diri sendiri sebelum kejadian yang sebenarnya terjadi.

Inilah yang disebut dengan unreasonable fear yang kata Felix Siauw dalam bukunya “How To Master Your Habits” dijelaskan bahwa itu adalah semacam penyakit berupa ketakutan yang hanya ada di dalam bayangan kita saja, dan tak mewujud dalam kenyataan. Semoga, setiap diri bisa melawan rasa ketakutan-ketakutan yang dimunculkan oleh dirinya sendiri. Untuk kemudian bebas melangkah menjadi pemenang, tanpa beban kekhawatiran yang tertumpu di pundak. Lawan dan menangkanlah dirimu, karena nikmat kemenangan akan terasa sesudah letih berjuang.

Terima kasih saya ucapkan kepada ALLAH swt. atas pertolongannya, juga kepada orang-orang yang telah berjasa bagi saya dalam memenangkan Perang Bisul I ini: kedua orang tua, kakak dan adik, perempuanku kelak, rekan sejawat (Pak Hilman, Mujiono, Hesti, Rhea, Mas Yoeska, all QC crew yang alay, Mbak Titin, Fahmi, Venessa, Laila, Mbak Wiwin, dan semuanya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu). Terima kasih banyak semua :)

Wassalamu’alaykum wr. wb…

2 komentar:

  1. Bisul ke-2 itu apa toh su?

    BalasHapus
  2. anak-anakku, mi... saya belum plong kalo belum meloloskan probation mereka :)
    berharap semoga mereka semua bisa lolos. amiin :)
    supaya bisul ke-2 saya segera pecah lagi.
    setelah itu ada bisul ke-3, dst :)

    BalasHapus