Minggu, 08 Februari 2015

ketika penyakit "pemakluman" datang

Sebagai manusia yang dilahirkan dengan anugerah berupa akal dan perasaan, membuat semua orang memiliki banyak hal yang dipikirkan dan direncanakan untuk dilakukannya dalam hidup. Ada yang ingin masuk universitas negeri, ada yang ingin tembus beasiswa luar negeri, ada yang memimpikan menaiki menara eiffel dan menyaksikan keindahan kota paris di atasnya, ada yang ingin naik haji, dan lain sebagainya. Itu semua adalah wajar dan merupakan buah dari potensi akal yang diberikan oleh ALLAH.


Karena potensi ini pulalah maka manusia akan dengan sendirinya dihantarkan ke dalam sebuah perencanaan. Niat yang diinginkannya itu dijabarkan ke dalam tahapan-tahapan tindakan. Ada rencana jangka pendek, rencana jangka menengah dan juga rencana jangka panjang. Yang pasti kesemuanya mengerucut pada sebuah tujuan yang ingin diraihnya.

Tekad, disiplin, semangat, keteguhan dan pantang menyerah adalah modal yang musti disiapkan ketika memiliki impian yang ingin dicapai. Tanpa itu semua, tak jarang perencanaan akan berhenti pada sebuah persimpangan antara lanjut atau berhenti. Saya cukup sering dihadapkan pada hal seperti ini.

Salah satu ciri sebuah perjalanan dalam rangka untuk mencapai suatu hal, adalah akan ditemui rintangan. Mustahil kiranya jika perjalanan itu teramat lancar. Ada yang bilang bahwa jika mimpi yang kita buat tidak sampai membuat kita ketakutan, jangan-jangan mimpi itu tidak cukup besar dan tidak menantang. Artinya, tentu akan ada rintangan untuk setiap mimpi besar yang ingin diwujudkan.

Rintangan yang muncul bisa dari faktor eksternal maupun internal. Kekuatan yang dimiliki oleh sebuah rintangan tak jarang membuat manusia kalah dan berhenti mewujudkan rencananya. Tidak dengan tiba-tiba, tapi berjalan secara bertahap. Jika bisa ditakulkan, maka aman. Tapi jika tidak bisa ditaklukan, maka bahaya mengintai. Bisa jadi tahapan dari rencana kita akan ditinggalkan atau minimal dilanggar. Sekali langgar akan diizinkan oleh akal, kedua kalinya muncul alasan, ketiga kalinya mencari pembenaran, keempat kalinya jadi kebiasaan. Terus dan terus… Semua menjadi sebuah pemakluman. Melanggar menjadi sesuatu yang dimaklumi dan selalu saja ada alasan untuk itu.

Bilamana kondisinya sudah seperti itu, maka jangan heran ketika melihat hasilnya nanti tidak sesuai dengan apa yang diharapkan di awal. Bagaimana mau tercapai jika mental untuk berbelot dari rencana awal sudah sering dilakukan, malah semakin menjauhi rencana.


Pemakluman terhadap sebuah pelanggaran rencana awal, mengindikasikan bahwa niat yang dilakukan belum sepenuhya teruji. Niat tersebut masih menyisakan celah-celah yang masih bisa dimasuki dengan rasa lemah yang ada pada diri. Belum kokoh dan bulat. Karenanya, ketika sudah muncul pemakluman, segeralah untuk balik dan evaluasi. Jangan sampai pemakluman benar-benar menjadi penyebab retak dan pecahnya sebuah tujuan yang ingin dicapai. Identifikasi dan investigasi penyebab pemakluman itu muncul. Jika kendala berupa teknis semisal waktu, kemampuan, jarak, uang, fasilitas, dan lain sebagainya, maka itu masih bisa diupayakan perbaikannya. Namun, yang celaka adalah ketika pemakluman muncul sebagai cara dari jiwa malas kita menunjukkan dirinya.

Contoh saya. Tujuan untuk bisa menulis rutin adalah niat yang sejak awal ditanamkan di tahun 2015. Namun, faktanya di bulan januari saja hanya terbit 1 tulisan. Di mana rutinnya? Selidik punya selidik, ternyata jiwa malas saya yang tengah mengambil komando pada diri. Awalnya adalah sebuah pemakluman akan: pulang kerja sudah capek, waktunya sempit, tidak ada ide, dan lain sebagainya. Tapi ternyata setelah saya pelajari, semuanya berpangkal pada sebuah kemalasan. Dan ini artinya niat saya masih belum utuh. Maka saya identifikasi dan cari tahu penyebabnya. Akhirnya lumayan di februari ini sudah ada perbaikan. Ini adalah tulisan kedua yang saya terbitkan di bulan februari. Alhamdulillah lebib baik dari bulan sebelumnya.

Nah, horor bukan ketika penyakit “maklum” ini bercokol dan menggerogoti rencana indah kita? Karenanya, siapkan perlawanan yang jitu ketika sedang membuat rencana, supaya ketika ia datang, kita sudah punya solusinya. Terakhir sebagai penutup dari tulisan ini, saya berharap semoga semua tujuan mulia kawan-kawan bisa tercapai dengan baik dan lancar, tanpa adanya sebuah pemakluman ketika mulai adanya pelanggaran. Aamiin. Selamat menyusun tujuan dan rencana mulia, dan selamat mempersiapkan pula tindakan apa yang harus dicapai ketika tamu bernama “pemakluman akan sebuah pelanggaran” bertandang pada rencana kita. Semangat!

Bandung, 8 Februari 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar