Selasa, 04 Maret 2014

cerita saya dan wedang ronde


Late posting. Tulisan semalam, tapi telat karena tidak ada koneksi internet. Hehehe. Semoga masih tetap fresh untuk dibaca :)

Selamat malam semua,
Tanggal tiga bulan tiga. Tanggal yang indah bukan?
Ya, seindah kota bogor malam ini yang memberikan kesyahduan pada saya untuk berbagi inspirasi kepada kawan-kawan semua.

Beberapa hari ini udara bogor begitu dingin. Maklum musim penghujan masih enggan untuk pergi menjauh dari kota yang memang terkenal kota hujan ini. Dan imbas dari cuaca dingin ini, kesehatan saya sedikit terganggu. Sistem pertahanan tubuh terdesak oleh gerombolan virus dan bakteri yang memilih untuk bermukim di sekitaran hidung, mulut dan tenggorokan. Yes alhamdulillah saya terserang flu dan batuk. Untungnya, yang terasa sekarang hanya tinggal sedikit batuk yang menggelitik, seperti tengah ingin bercanda di dekat saluran dimana gerak peristaltik terjadi. Haish, ini dari sekian kata-kata yang saya tulis intinya saya masih dilanda batuk. Sudah itu saja. Hahaha.

Saya bukanlah tipikal manusia yang bisa akrab dengan obat-obatan. Bagi saya benda-benda tersebut hanya akan membuat kerja organ hati saya bertambah berat. Ya, begitulah pikiran orang awam macam saya, jangan ditiru 100% ok? Resep dari dokter sudah ditangan tapi nyatanya saya tak kunjung menebusnya ke apotek. Obat batuk cair ada di kamar, tapi nyatanya hanya sesekali saja saya tenggak. Selebihnya saya percayakan pada khasiat madu dan berdo’a.

Saya faham bahwa semua penyakit ada obatnya. Saya yang tidak tahu banyak dunia medis dan obat-obatan ini selalu percaya bahwa senyawa dan bahan aktif yang ada pada tanaman sejatinya adalah obat yang dijanjikan oleh Allah tersebut. Bukan senyawa hasil reaksi kimia yang begitu canggih. Bukan racikan dari zat-zat dengan nama asing yang diformulasikan di sebuah laboratorium yang keren. Saya hanya meyakini bahwa yang alami selalu menjadi yang terbaik. Entah ini benar atau tidak, silakan untuk mencari review dari artikel-artikel yang terkemuka ya…

Dan ketika batuk ini masih menyerang dalam tenggorokan saya, pikiran saya jatuh pada sebuah tanaman yang begitu populer sebagai penghangat tubuh dan tenggorokan. Apalagi kalau bukan si Zingiber officinale. Begitulah nama dia disematkan dalam kamus binomial nomenclature karyanya Carolus Linnaeus. Ada yang tahu nama apakah itu gerangan? Itu adalah jahe, kawan.

Berhubung saya adalah anak kost, dan mencari sesuatu yang praktis, maka pilihan untuk menikmati jahe  saya jatuhkan kepada abang penjual wedang ronde yang ada di jalan pajajaran, bogor. Kalau kita berkendara dari arah botani square, terletak di sebelah kiri jalan, sekitar 100 meter setelah jembatan bale binarum. Semoga ketemu dan ada di google maps ya, kawan!

Tempat ini sebetulnya menjadi tempat favorit saya dalam menghabiskan malam. Tak sering memang saya ke sini. Tapi tak bisa juga dikatakan jarang. Saya kerapkali menikmati wedang ronde di tempat ini sendirian atau sesekali bersama teman-teman. Bedanya adalah jika bersama teman-teman, fokus saya untuk menghayati nikmatnya wedang ronde seringkali bukan menjadi hal prioritas. Saya lebih memilih untuk bercakap-cakap dengan teman-teman.

Lain halnya ketika saya menikmati hangatnya wedang ronde sendirian. Karena tak ada objek dan bahan percakapan, saya kerap memainkan mata menyaksikan sekitar. Memperhatikan jalan, kendaraan yang lalu lalang melintas di salah satu jalan terbesar kota bogor, menyaksikan tingkah manusia lainnya yang juga tengah asyik menikmati wedang ronde bersama teman-temannya, dan bahkan sampai pada satu titik saya iseng mengamati si wedang ronde itu sendiri. Kalo perlu, saya ajak ngobrol deh tuh si ronde. Hahaha.

Sebelum saya berbicara lebih jauh, saya perlihatkan dulu foto penampakan dari si wedang ronde itu seperti apa. Beginilah penampakan kawan hangat saya yang satu ini:

wedang ronde jalan pajajaran bogor :)

Itu adalah penampakan wedang ronde yang memang belum saya makan satupun. Dalam semangkuk kecil tersebut isinya terdiri dari 4 ronde berukuran kira-kira sebesar jempol kaki, dan skitar 15 ronde kecil seukuran kelereng yang kemudian semuanya berenang dalam air jahe panas yang diberikan larutan gula sebagai pemanis. Oiya untuk ronde besar itu ada isinya berupa gilingan kacang tanah yang manis gurih, sedangkan untuk yang kecil tidak ada isinya.

Berbeda dengan wedang ronde dari jogja yang kaya akan bahan-bahan lain seperti roti, kacang tanah sangrai, kolang-kaling, dan tentunya si bulat rondenya itu sendiri, wedang ronde di tempat ini hanya fokus pada bulat rondenya saja yang terdiri dari 3 warna, yaitu hijau, merah muda dan putih. Sedangkan air jahenya sih kurang lebih sama.

Bagi saya, wedang ronde bogor ini adalah salah satu makanan favorit saya. Harganya yang hanya tujuh ribu rupiah saja per porsinya, cukup terjangkau dengan penghasilan yang saya miliki sekarang. Sesekali saya membungkus wedang ronde ini untuk dibawa pulang dan diserahkan kepada ibu kost. Kontan saja ibu kost sependapat dengan saya. Beliau langsung menyukainya. Tapi bukan itu yang mau saya ceritakan.

Ok lanjut ya dengan cerita jika saya memakannya sendirian tidak bersama teman-teman. Di tengah kesendirian saya menikmatinya, selintas saya mencoba memahami makna si wedang ronde tersebut. Dia tak pernah mau bercerita sisi uniknya pada saya. Padahal saya sudah berteman lama dengannya. Barangkali dia memang ingin memancing otak saya untuk mau mengenalnya lebih dalam. Ya apa mau dikata, akhirnya saya tuliskan juga penilaian saya terhadapnya.

Wahai wedang ronde,
Engkau begitu hangat, seolah mengajarkan saya untuk selalu bersikap hangat dan humble pada orang lain yang saya sayangi.

Engkau berwarna-warni, seolah memberitakan kepada saya untuk mau membuka diri bahwa hidup ini penuh perbedaan, dan begitu indah dipadukan dalam satu media.

Engkau berisi gilingan kacang yang manis dan gurih, seolah ingin menunjukkan kepada saya bahwa dalam hidup terkadang banyak sekali kejutan. Seperti ketika kau kugigit, kasarnya kacangmu adalah pengalaman kurang enak, tetapi rasa manis gurihmu adalah pengalaman yang menyenangkan. Seperti itulah kau mengajarkan hidup.

Engkau berisikan ronde dengan ukuran besar yang lebih sedikit dibandingkan dengan yang kecil, seolah ingin mengajarkan bahwa faktanya sesuatu yang besar (pemimpin) memang sedikit jumlahnya, tetapi di balik pemimpin itu didukung oleh banyak sekali follower-follower yang siap untuk mendukung pemimpinnya.

Itu saja makna yang bisa saya ambil darimu. Jika suatu saat kamu mau menceritakan lebih banyak tentangmu, saya siap mendengarkan. Namun, kali ini biarkan kebersamaan kita sampai pada tahap itu saja ya?! Saya tak pernah tahu apakah orang-orang yang bersamamu pun sempat menilai hal yang sama dengan apa yang saya nilai. Kalaupun orang lain tak peduli dengan semua itu, barangkali karena kebersamaan kita yang sudah cukup seringlah yang akhirnya membuat saya bisa menulis tentang kamu. Ya inilah tulisan itu. Sebuah tulisan tentang cerita saya dan wedang ronde.

2 komentar:

  1. Assalamualaikum wr wb ya akhi.

    Syahdu sekali pemaparan mengenai wedang rondenya kang :P

    BalasHapus
  2. Wa'alaykumussalam ya akhi :)

    dika, terima kasih banyak yaaa.
    aduh saya ga enak nih ada bahasan saya tentang obat-obatan yang saya persepsikan sendiri, tapi semoga tidak menyinggung ya, dika :)

    eiya tolong di-blogroll ya, blog saya ini. saya juga follow blog kamu...

    BalasHapus