Selasa, 18 Februari 2014

bebas!

dua hari yang lalu, saya mengisi ahad yang cerah dengan berkunjung ke kawasan olahraga paralayang di daerah puncak, jawa barat. bersama seorang teman dekat saya meluncur dari kota bogor dan tiba di lokasi yang dimaksud sekitar pukul 11 siang.

udara dingin puncak selalu menjadi ciri khas. matahari kala itu nampak tak bersungguh-sungguh menampakkan cahaya emasnya. angin berhembus pelan membuat kepala saya yang baru dicukur pendek terasa dingin (alah penting banget ini info. hehehe).

kami lantas melanjutkan sedikit pijakan kaki menaiki anak tangga hingga tepat berada di area take-off untuk paralayang ini. area tersebut dipenuhi oleh muda-mudi yang tengah berkencan, orang tua yang sengaja berlibur dengan anak-anaknya, dan yang paling dominan adalah warga arab yang memang populasinya cukup banyak di daerah puncak (entah saya kurang tahu sejarahnya seperti apa hingga banyak sekali orang arab di kawasan cisarua, puncak tersebut).

beruntung saat itu. tak lama setelah kehadiran saya, angin bertiup lebih kencang seolah berkonspirasi menyambut kedatangan saya yang memang sedang ingin menyaksikan paralayang. ini pertanda baik bagi para guide paralayang. mereka kontan mendapatkan orderan dari para wisatawan yang hendak bermain paralayang. lucunya selama saya berada di situ, 100% wisatawan yang bermain paralayang adalah warga arab, sedangkan wisatawan lokal (termasuk saya), hanya cukup puas memasang mata dengan perasaan "ingin", atau sekadar memainkan salah satu fitur handphone yang mendadak jadi primadona, yaitu kamera/video. miris!!! hahaha. wajar juga sih mungkin paralayang masih termasuk olahraga yang mahal. #pembelaan. hahaha.



selang setiap 5 menit satu per satu paralayang diluncurkan. indah sekali! orang-orang yang menyaksikan ini lantas ribut dan asyik dengan kamera handphone-nya. lagi-lagi saya termasuk dalam komunitas orang yang ribut dan asyik tersebut. huft! sebagai penonton, saya fokus memasang mata, telinga, pikiran dan hati. menangkap semua hal yang sekiranya bisa bermanfaat untuk saya. wih lebay amat. hehehe. dan, yang saya tangkap dari setiap mereka yang take-off ketika bermain paralayang adalah sebuah teriakan disertai dengan wajah gembira, seolah rasa takut sudah tak lagi melekat, melainkan berganti dengan perasaan riang dan bebas. ya BEBAS! itu yang saya tangkap...

saya menarik kesimpulan sendiri bahwa sepertinya mereka semua merasa bebas. bebas dari penat aktivitas selama 1 minggu. bebas dari rasa hati yang mengganjal. bebas dari urusan keruwetan yang sedang dipikirkannya. dan mungkin bebas segala-galanya. mungkin.

saya jadi berpikir, senang sekali bisa bebas seperti itu. tapi apakah kebebasan itu memang benar ada? apakah ada orang bebas di dunia ini? saya menyangsikannya. oops, ada kok. orang gila. ya, orang gila adalah orang yang benar-benar merdeka. mereka bebas melakukan sekehendaknya, walaupun wallahu'alam bagaimana mereka dihisab nanti dengan kebebasannya itu. ah itu tak penting. kita tidak gila kan?

yang saya tahu, selama manusia memiliki akal yang waras, tiada satu pun manusia bebas di dunia ini. mereka terikat dengan segala unsur yang mengikatnya. mereka sudah pernah berjanji bahwa akan mengikatkan dirinya kepada penciptanya. sadarkah pernah melakukan ini? jika belum sadar, silakan untuk simak ayat berikut:


dari ayat tersebut, setiap orang yang lahir di dunia (tak terkecuali), sudah pernah mengikrarkan dirinya bahwa akan menganggap sebagai makhluk ALLAH. dan tentunya ALLAH miliki maksud dan tujuan menciptakan manusia. semuanya sudah diatur, dan tentu ada aturannya. aturan ALLAH ini sifatnya mengikat, sehingga sudah barang tentu tidak ada istilah manusia bebas di dunia ini. semuanya ada aturannya. bagi mereka yang memilih untuk bebas dengan tidak taat pada aturan tersebut, jangan salah bahwa mereka tetap tidak terbebas dari hisab yang akan dijelang. eng ing eing...

hmmm, berarti mau tidak mau untuk manusia berakal (termasuk saya), tidak pernah bisa merasakan kebebasan dong? bukannya hidup itu pilihan? ya, hidup itu pilihan. memilih untuk turut aturan ALLAH atau untuk ingkar dengan aturan ALLAH. keduanya pun punya pertanggungjawabannya. dan pertanggungjawaban ini akan dipertaruhkan nanti di akhirat. nah lho, jadi tidak ada yang bebas bukan? pipis saja bayar lho. hehehe.

weits, berat juga bahasan dari paralayang jadi masalah kebebasan, aturan ALLAH, dan lain sebagainya. hehehe, tanpa bermaksud membuat berat, hanya sebuah pemikiran yang bercokol di otak saya saja, tapi saya mengimani apa yang saya pikirkan tersebut, sebagai pengingat untuk saya pribadi bahwa selama hidup, tak ada yang namanya kehendak bebas. semuanya akan dipertanggungjawabkan, walau sebesar biji atom sekalipun.

aaahhh, akhirnya saya perlu kembali pulang ke kota bogor. cukup sudah saya membebaskan diri bertafakur ke kawasan paralayang tersebut, dan saya yakin aktivitas saya saat itu akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat. dan semoga saat itu saya bisa menjawabnya bahwa saya melihat paralayang sambil terus berdzikir mengingat-Mu. aamiin :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar