Jumat, 14 Februari 2014

sebuah cerita (tak berjudul)

percakapan saya via whatsapp dengan salah satu teman SD, melambungkan ingatan saya akan salah satu sepenggalan episode paling heroik dalam kehidupan saya. sekitar tahun 1996 kalau tidak salah.

*   *   *

teman saya tersebut bernama Dwi. ia adalah teman yang sangat menyenangkan, baik dan pintar. terbukti dengan statusnya sebagai ranking 1 ketika di kelas IV caturwulan 1 di SD yang baru saja saya datangi setelah saya pindah dari sebuah SD di pelosok Karawang.

sebagai murid baru bisa dikatakan saya tak tahu sopan santun. masuk di caturwulan 2 kelas IV SD cijerah 6 bandung, tanpa izin saya berhasil mengalahkan Dwi menjadi ranking pertama. tanpa bermaksud sombong di sini, karena point yang akan saya ceritakan selanjutnya bukanlah itu. hahaha.

saya, Dwi dan beberapa teman lainnya seringkali bermain bersama. jika ada tugas kelompok, saya masih ingat rumah Dwi-lah yang dijadikan tempat untuk belajar bersama mengerjakan tugas kelompok. walau sangat jauh dari sekolah, tapi namanya bocah, berpetualang jauh sekalipun akan dianggap hal hebat yang bisa dibanggakan. hehehe.

orang tua Dwi adalah sosok orang tua yang menggembirakan. mereka ramah sekali dan perhatian. alkisah takdir menuliskan saya harus banyak berinteraksi dengan mereka. sosok saya yang di mata mereka sangat potensial, mungkin menjelma menjadi sebentuk perhatian lebih bagi mereka. saya mulai dilirik oleh orang tuanya Dwi. dengan sangat santun mereka mendatangi kedua orang tua saya dan mengatakan suatu hal yang bagi saya saat itu laksana lolos dalam seleksi siswa berbakat. hehehe lebay.

mereka menawari saya sebuah bantuan pendidikan. uniknya niat untuk membantu tersebut, justru dikhawatirkan menjadi bentuk yang disalahtangkapkan oleh keluarga saya. karenanya mereka sangat hati-hati dalam berbicara. begitu ramah dan mengucapkan permohonan maaf bilamana justru menyinggung. sebuah sikap yang hanya dimiliki oleh orang yang berjiwa besar dan mulia. tak pernah bisa saya melupakan kebaikan mereka yang tak terkalimatkan. rasanya seperti bertemu dengan seorang malaikat yang sengaja ALLAH turunkan untuk memperlancar program pendidikan saya.

kondisi ekonomi keluarga saya saat itu memang sedang sangat terpuruk, tetapi ALLAH memperlihatkan bukti kekuasaan-Nya bagi siapa yang bersungguh-sungguh. karenanya saya selalu percaya itu. kesungguhan dan kejujuran selalu menjadi sebab dari datangnya pertolongan ALLAH.

tak etis tampaknya bila saya menyebutkan bantuan macam apa yang beliau berikan kepada saya, karena saya percaya orang baik tak mau kebaikannya dinyatakan. namun yang pasti, hingga saat ini saya masih menaruh hormat kepada mereka. saya belajar kesederhanaan dan kedermawanan dari mereka. saya jadi tahu bahwa kebaikan mereka telah menjadi jembatan saya bisa menjadi seperti sekarang, karenanya tak berlebihan kiranya jika saya jadikan mereka sebagai salah satu pahlawan dalam kehidupan saya. dan saya bersungguh-sungguh untuk bisa membanggakan perjuangan yang pernah mereka lakukan untuk kemuliaan saya.

teruntuk Pak Laswijiyanto dan istri,

tak ada hubungan darah yang mengalir di antara pembuluh kita berdua
namun, ada segumpal senyawa bernama ketulusan yang kalian susupi dalam pembuluh saya
hingga senyawa tersebut kini telah bereaksi membentuk endapan bening nan bercahaya
cahaya tersebut terus saja berpendar berusaha menyinari sekeliling, hingga membahana...

seperti itulah apa yang pernah kalian berikan pada saya, dan saya berdo'a semoga cahaya kebaikan yang sekarang saya miliki bisa saya sebarkan pada orang lain, yang mana cahaya tersebut saya sangsikan bisa bersinar seperti saat ini bila tak pernah ada kalian yang pernah menyalakannya.

saya berdo'a semoga Bapak dan Ibu terus diberikan kemudahan dan kelancaran dalam segala aktivitasnya. senantiasa berguna bagi banyak orang dan selalu sehat menginspirasi, bertambah bijak dan mengagumkan. aamiin.


terima kasih, dan tak bisa saya membalas budi baik kalian selain dengan rencana silaturahim yang insya ALLAH akan kita jelang sebentar lagi.

*   *   *

kini, 18 tahun sudah kejadian itu berlalu, dan cahaya itu masih saja bersinar dan berupaya terus menyinari sekitar. insya ALLAH.

2 komentar:

  1. sesuatuh sekaliiii... *geura kawin suh!

    BalasHapus
  2. hahaha... iya insya ALLAH rek disegerakeun ieu. ente iraha? eh, dit hayang panggih euy hayang belajar lay out blog yeuh meh beuki edun. hahaha :)

    BalasHapus