Minggu, 11 Agustus 2013

inspirasi: rumah seribu malaikat

saya menulis setelah pulang dari berkelana seorang diri mengelilingi kota bandung malam hari. bagi introvert macam saya, hal seperti ini sangatlah lumrah. bermotoran malam tanpa tujuan, hanya untuk sekedar merasakan keberadaan diri di tengah geliat kota bandung yang masih sepi ditinggal warganya mudik. hehehe.

saya melakukan itu hanya untuk mencari energi baru setelah beberapa hari ini dihabiskan dengan aktivitas yang kurang produktif. tanpa pikir panjang, saya pinjam motor kakak saya dan langsung ngacir melintasi dinginnya bandung malam hari. percaya atau tidak, saya benar-benar tak ada tujuan. saya biarkan pikiran dan tangan kanan mengatur gas semaunya. alhasil inilah jalan yang saya tempuh selama 1 jam tadi: cijerah - pajajaran - jalan layang pasupati - gedung sate - w. r. supratman - ahmad yani - asia afrika - jendral sudirman - cijerah. hahaha benar-benar hanya mencari angin dan sekadar menikmati bandung malam hari yang ternyata MENGAGUMKAN.

berikut foto kota bandung yang berhasil saya ambil dari jembatan layang pasupati:

kawasan tamansari diambil dari atas jalan layang pasupati

tiang penyangga jalan layang pasupati

well, sudah ah menceritakan segi introvert saya malam ini. biarlah selanjutnya itu mengisi energi baru di setiap relung hati dan juga sebagai bahan bakar baru untuk memulai aktivitas pascalibur lebaran kali ini. yang pasti, setelah upaya penikmatan diri mencecap bandung malam hari, saya jadi membayangkan bahwa ingin rasanya kelak menghabiskan masa tua saya di sini. di kota tempat kelahiran saya. kota indah penuh pesona :)

nah, sebetulnya maksud saya menulis malam ini, hanya ingin membahas ulang serial televisi yang sudah 3 hari ini saya saksikan di kompas TV setiap jam 1 siang. rumah seribu malaikat judulnya. sebuah film sarat makna yang telah berhasil membuat saya mencapai melankolis to the max. terlebih siang tadi adalah episode terakhir dimana serial tersebut akhirnya tamat.


film ini mengisahkan tentang keluarga muda yang diperankan oleh ringgo agus rahman sebagai hasan dan istrinya bernama fitri yang diperankan oleh (maaf, saya lupa. hehehe). hasan adalah seorang petugas di kantor kelurahan yang sangat jujur dan positive thinking. kehidupannya sangat sederhana namun penuh dengan keceriaan. aksen sunda yang kental dalam dialog antarpemainnya membuat serial ini memikat dan mencuri tempat di hati saya, terlebih setting yang digunakan dalam serial ini adalah kota bogor. kota dimana saat ini saya berdomisili selama lebih dari 3 tahun. ah cakep bener pokoknya...

walaupun hidupnya sederhana, keluarga hasan ini menghadapi dengan ikhlas apa yang menjadi ketentuan-Nya. di tengah istrinya yang sedang hamil, hasan malah memungut anak-anak jalan yang kurang beruntung. oscar dan diana nama kedua anak yang dirawatnya. sampai akhirnya anak kandungnya lahir, yaitu rizky. singkat cerita, total anak yang tinggal di rumah tersebut yaitu berjumlah 6 orang.

hasan dan istrinya sungguh berhasil membuat saya tenggelam dalam sebuah romantika dan mengoyak pikiran dan nurani saya. bagaimana tidak? kehidupannya yang sangat sederhana sebagai seorang petugas kelurahan ditaruhkannya untuk menghidupi istri dan keenam anaknya. walau beberapa kali ditawarkan untuk "bermain cantik" demi tambahan pundi rupiah oleh teman kantornya, hasan tetap teguh memegang kejujuran. tunggakan SPP anak-anaknya padahal sudah harus dilunasi, tapi ia tetap percaya bahwa selagi dia berusaha dengan jujur, rezeki akan mengalir.

di tengah kondisi yang sudah cukup memprihatinkan tersebut, akhirnya anak-anaknya berinisiatif untuk membantu kondisi orang tuanya. cara yang ditempuh adalah dengan membuat dan menjual donat. dari sini kemudian banyak membantu kondisi keuangan keluarga. namun, hal ini tak semulus yang dibayangkan, segelintir fitnah sampai ke telinga keluarga harmonis tersebut. tetangganya yang memang iri melihat kehebatan keluarga hasan, menebar hasud dan tuduhan bahwa hasan dan istrinya sengaja mengangkat anak pungut untuk dieksploitasi demi kepentingan pribadi. astaghfirullahal'adzim.

namun, tuduhan tersebut berhasil teratasi berkat pengakuan langsung dari anaknya bahwa mereka berjualan donat karena murni untuk membantu, tanpa paksaan. hikmah yang didapat dari berjualan donat tersebut juga adalah dipertemukannya diana dengan kakak kandungnya yang terpisah sewaktu kecil. kakaknya yang bernama teh olin mengajak diana untuk hidup bersamanya. namun, diana lebih memilih keluarga yang telah membesarkannya. ia memilih untuk tetap tinggal bersama ayah dan ibunya. sungguh sebuah keputusan yang akhirnya membuat saya nyaris menumpahkan air mata.

demikianlah cerita dari rumah seribu malaikat. walaupun ceritanya cukup sederhana, tetapi pesan moral dan hikmah/ibroh yang saya terima sungguh sangat banyak. saya memiliki cita yang sama dengan hasan. menjadi karyawan yang bekerja dan berkarya secara jujur. menjadi suami yang bertanggung jawab, dan membesarkan serta mendamaikan hati istrinya. menjadi ayah yang ramah dan peduli dengan masa depan anak-anaknya. dan yang tak kalah penting adalah menjadi sosok penderma yang berharap menjadi pribadi yang banyak manfaatnya dan menjadi bagian dari solusi masalah sosial. karena bagi saya, kebahagiaan bukan diukur dari materi. kebahagiaan akan sangat terasa ketika menjadi pribadi yang banyak menebar manfaat, walaupun harus dibalut dengan kerja keras dan kesederhanaan. dan saya sudah terbiasa dengan itu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar